Stres pada anak:
gejala, penyebab,
dampak dan
penanggulannya
Dalam pandangan
global, dunia anak
adalah dunia impian
yang hanyalah
dipenuhi dengan
berbagai kesenangan,
kebahagiaan dan
ketenangan. Namun
tahukah kita bahwa
anak-anakpun dapat
mengalami stres?
Kenyataan
membuktikan bahwa
selain hal-hal yang
menyenangkan,
kehidupan anak-anak
sekarang ini juga
telah dipenuhi oleh
pelbagai beban
persoalan dan
tekanan sama seperti
yang dialami oleh
orang dewasa pada
umumnya.
Permasalahan-
permasalahan yang
dialami anak bisa
berasal dari
lingkungan maupun
dari dalam diri
mereka sendiri dan
apabila tidak teratasi
atau terkontrol
dengan baik akan
berujung pada
perubahan-perubahan
fisik dan mental yang
dapat membahayakan
diri mereka sendiri.
Kondisi-kondisi seperti
inilah yang dikenal
sebagai stres.
Dalam istilah medis,
stres didefinisikan
sebagai suatu
rangsangan fisik dan
psikologi yang
menghasilkan reaksi
mental dan fisiologi
yang dapat
menimbulkan
berbagai macam
penyakit. Sedangkan
secara teknis, stres
merupakan
pengrusakan
keseimbangan tubuh
(homeostasis), yang
dicetus oleh
pengalaman-
pengalaman yang
tidak menyenangkan,
baik yang nyata
maupun yang tidak
nyata. Untuk lebih
mudah memahami
stres yang terjadi
pada anak maka
sangatlah penting
bagi orang dewasa
untuk mengetahui dan
memahami berbagai
hal yang berkaitan
dengan stres pada
anak seperti tanda-
tanda atau gejala,
faktor penyebab,
dampak, serta
bagaimana strategi
untuk mencegah dan
menanggulangi stres
pada anak.
Tanda dan gejala
stres pada anak.
Anak-anak yang
sedang mengalami
stress mungkin tidak
tahu bahwa mereka
sedang berada dalam
kondisi stres, sehingga
dibutuhkan peran
orang tua untuk
mengenali tanda-
tanda stress pada
anak. Pengenalan
tanda-tanda stress
pada anak secara dini
oleh orang tua sangat
membantu anak-anak
untuk coping dengan
situasi yang mereka
alami. Namun,
berbeda dengan
orang dewasa, gejala
stres pada anak
sangatlah tidak
mudah untuk dikenali.
Secara umum gejala
atau tanda-tanda
stres pada anak dapat
dikelompokkan dalam
beberapa katagori:
a) gejala fisik: seperti
ngompol, sulit tidur,
menurunnya napsu
makan, gagap, sakit
perut, sakit kepala,
dan mimpi buruk,
b) gejala emosi:
ditandai dengan rasa
bosan, tidak adanya
keinginan untuk
berpartisipasi pada
aktivistas di rumah
maupun di sekolah,
takut, marah,
menangis, kebiasaan
berbohong, mengasari
teman, atau
memberontak
terhadap aturan-
aturan, bereaksi
secara berlebih-
lebihan terhadap
masalah-masalah
yang kecil, dan
perubahan drastis
dalam penampilan
akademik;
c) gejala kognitif:
ditunjukkan melalui
ketidakmampuan
berkonsentrasi atau
menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan
sekolah, dan suka
menyendiri dalam
waktu yang lama;
d) gejala tingkah laku:
ditunjukkan dengan
ketidakmampuan
mengontrol emosi,
menunjukkan sikap
brutal dan keras
kepala, dan
perubahan tingkah
laku jangka pendek
seperti temperamen
yang berubah-ubah
dan perubahan dalam
pola tidur, munculnya
kebiasaan-kebiasaan
baru seperti mengisap
jempol, memutar-
mutar rambutnya,
atau mencubit-cubit
hidung।
Penyebab stres pada
anak. Setelah
mengetahui berbagai
tanda atau gejala
stres pada anak, tentu
kita ingin mengetahui
secara gamblang apa
faktor penyebab stres
pada anak. Pepatah
mengatakan
bahwa : “the sooner to
know the causes, the
better to cure the
effects”. Pepatah ini
merupakan motivasi
yang sangat baik bagi
orang tua untuk
mengetahui faktor-
faktor penyebab
stress pada anak,
sehingga mereka
mampu mengambil
tindakan pertolongan
bagi anak-anak
mereka agar coping
dengan stress yang
dihadapi serta mampu
mencegah atau
menghindari
terjadinya stress pada
anak.
Menurut Prof. Marian
Marion dalam
bukunya Guidance for
young children, ada
dua faktor utama
penyebab stress
(stressors) pada anak
yakni faktor internal
dan faktor eksternal।
Yang termasuk dalam
faktor internal antara
lain rasa lapar, rasa
sakit, sensitivitas
terhadap bunyi/
keributan, perubahan
suhu, dan kondisi
keramaian
(kepadatan manusia).
Sedangkan faktor
eksternal meliputi
perpisahan atau
perceraian dalam
keluarga, perubahan
dalam komposisi
keluarga, menghadapi
pertengkaran dan
konflik, menghadapi
kejahatan, mengalami
tindakan kekerasan
dari sesama teman
(bullying), kehilangan
sesuatu yang
berharga misalnya
hewan kesayangan,
diperhadapkan
dengan tugas yang
harus diselesaikan
secara bertubi-tubi,
terburu-buru
(hurrying), dan
kehidupan sehari-hari
yang tidak teratur
dengan baik. Dari
semua faktor
penyebab stress yang
sudah disebutkan,
menurut spesialis
pengembangan
manusia dari
University of Illinois
Cooperative Extension
(Christine M. Todd),
stress fisik (seperti
rasa lapar,
mengantuk atau
mendapat peringatan
akibat tingkah laku
yang kurang baik)
merupakan penyebab
utama masalah
tingkah laku pada
anak.
Dampak stres pada
anak. Stress dapat
berdampak positif
maupun negative dan
dipengaruhi oleh
umur dan tingkatan
stres. Stress yang
berdampak positif
(misalnya mengikuti
kejuaraan tertentu
dan belajar
mengendarai sepeda)
merupakan bagian
yang normal dari
kehidupan anak setiap
hari. Berkaitan
dengan umur,
semakin muda anak,
semakin besar
dampak yang
ditimbulkan dari hal-
hal baru, dan semakin
kuat serta potensial
pula stress negatif
terjadi. Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa
dampak negatif dari
stress lebih banyak
terjadi pada anak-
anak yang berumur di
bawah 10 tahun, yang
memilki temperamen
menurun seperti
“sulit” atau “slow but
warm-up”, dan yang
dilahirkan prematur.
Stress yang terjadi
secara
berkepanjangan
(chronic stress)
sangat
membahayakan bagi
kesehatan dan
perkembangan
mental anak, seperti
menurunkan
kekebalan tubuh
(immune system)
untuk melawan
penyakit dan infeksi,
merusak system
pencernaan,
menghambat
pertumbuhan,
merusak emosi,
perkembangan fisik
dan sel-sel otak anak.
Pencegahan dan
penanggulangan
stress pada anak.
Untuk menolong
anak-anak yang
sedang menghadapi
stress diperlukan
strategi pengendalian
yang tepat dari orang
dewasa. Strategi
pengendalian ini
haruslah didasarkan
pada tingkat
perkembangan anak
karena hal ini sangat
berkaitan dengan
kemampuan anak
untuk mengerti dan
memahami keadaan
yang sedang mereka
alami. Para pakar
anak menyebutkan
bahwa ada banyak
cara yang dapat
dilakukan untuk
mencegah serta
mengurangi stres
pada anak seperti:
1. Istirahat yang
cukup dan nutrisi yang
baik dapat menolong
anak-anak dalam
mengatasi stress.
2. Menyediakan waktu
yang berkualitas
dengan anak setiap
hari. Biarkan anak
mengutarakan
masalah yang sedang
dihadapi dan
menuliskannya. Pada
kesempatan ini anak
diajak bermain
bersama-sama atau
berbicara dari hati ke
hati tentang bebagai
masalah yang
dihadapi oleh mereka
serta mencari jalan
keluar bersama.
Ajarkan anak untuk
mentransfer strategi
pengendalian stress
kepada situasi yang
lain. Dengan demikian
mereka akan merasa
bahwa mereka sangat
berarti bagi orang tua
mereka.
3. Sebelum anak
menghadapi hal-hal
baru dalam keluarga
yang dapat
menyebabkan stress
(misalnya kelahiran
anggota keluarga
baru), maka perlu
bantuan orang tua
mempersiapkan anak
dengan cara untuk
memberikan
pemahaman tentang
hal-hal baru yang
akan terjadi dalam
keluarga. Hal ini akan
menolong mengurangi
beban stress anak.
Namun, persiapan
yang berlebih-lebihan
juga dibuktikan dapat
menyebabkan lebih
banyak stress. Orang
tua dapat menilai
apakah pemahaman
yang diberikan sudah
cukup atau belum
dengan cara
memberikan
kesempatan kepada
anak untuk bertanya
jika ia ingin
mengetahui lebih
banyak.
4. Menyediakan
lingkungan yang
mendukung bagi anak
dimana mereka dapat
bermain atau
mengekpresikan
bakat seni mereka.
5. Menolong anak-
anak untuk mampu
mengidentifikasi
berbagai strategi
penanggulangan stres
(misalnya meminta
pertolongan jika ada
seseorang yang
menggoda/
mengganggu,
mengatakan kepada
mereka kalau kamu
tidak menyukainya
atau meninggalkan
orang yang
mengganggu)
Menolong anak-anak
untuk mengenal,
menamai, menerima
dan mengekspresikan
perasaan mereka
secara tepat.
6. Mengajarkan
kepada anak-anak
teknik relaksasi
(beristirahat). Berikan
saran-saran seperti:
“tarik napas yang
dalam”, “berhitung
mendur”, “tarik dan
regangkan otot-
ototmu”, “bermain
dengan adonan tanah
liat”, “berdansa” atau
“membayangkan
tempat-tempat yang
disukai untuk
dikunjungi dan
menghayal
mengunjungi tempat-
tempat tersebut”).
7. Latihan
menggunakan
berbicara pada diri
sendiri (self-talk
skills) seperti “saya
akan mencoba”, saya
piker saya mampu
melakukannya”, ini
akan menolong anak
dalam mengendalikan
stress mereka.
Beberapastrategi
dasar meliputi
penerapan strategi
disiplin positif,
mengikuti rutinitas
secara konsisten, dan
meningkatkan kerja
sama.
8. Jangan membebani
anak dengan masalah
yang sedang dihadapi
orang tua. Tetapi
katakanlah kepada
mereka tujuan hidup
keluarga dan
diskusikan kesulitan-
kesulitan yang
dihadapi dengan sikap
yang menyenangkan.
9. Berilah pujian pada
anak ketika mereka
melakukan hal-hal
yang baik dan jangan
lupa untuk
memberikan pelukan
dan ciuman.
10. Gunakanlah humor
sebagai buffer
terhadap perasaan-
perasaan dan situasi
yang kurang baik.
Anak yang
mempelajari humor
akan lebih baik untuk
menjaga segala
sesuatu dalam
persepsi.
11. Jangan
memberikan beban
yang berlebihan
kepada anak dengan
aktivitas dan
tanggung jawab diluar
sekolah. Biarkan
anak-anak untuk
belajar mengatur
waktu mereka dengan
baik. Jangan meminta
mereka untuk selalu
menjadi nomor satu
dalam segala hal.
12. Berikanlah contoh
dan teladan yang baik
kepada mereka
sehingga mereka
akan meniru tingkah
laku orang tuanya.
Tunjukkan kepada
mereka keahlian
untuk mengontrol
pengendalian diri dan
keahlian untuk
mengendalikan stress.
Dengan melihat hal ini
akan memberikan
keuntungan bagi
mereka karena
nantinya mereka akan
mampu
mengendalikan stress
mereka secara baik.
13. Carilah teman
atau para profesional
untuk menolong anda
apabila masalah yang
dihadapi terlalu berat
untuk ditangani
sendiri.
Kesimpulannya,
pengetahuan dan
pemahaman yang
benar tentang hal-hal
yang berkaitan
dengan stres pada
anak seperti tanda-
tanda atau gejala
stress, faktor
penyebab, berbagai
dampak yang
ditimbulkan dan
berbagai metode
pengandaliannya
merupakan informasi
yang sangat
bermanfaat bagi
orang tua dalam
menerapkan strategi
yang tepat untuk
mencegah dan
mengurangi stress
yang terjadi pada
anak.
Written by: Catootjie
(Penulis adalah staf
pengajar pada
Politeknik Pertanian
Negeri Kupang dan
sedang melanjutkan
pendidikan doctoral
(S3) pada IFNHH-
Massey University, di
New Zealand)
Saturday, November 14, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment