Tak sedikit terjadi, bayi tewas saat tidur. Terutama dalam posisi tengkurap. Karena tak terduga, tindak pencegahannya pun nyaris mustahil. Tak bisa dibayangkan bagaimana terpukulnya perasaan orang tua yang baru dikaruniai bayi yang tampak sehat dan normal namun mendadak menemukan bayinya dalam keadaan biru tak bernyawa di dalam boksnya. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi pada bayi yang mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)?
Sebetulnya, bicara masalah kematian pada bayi, jelas dr. Bambang Supriyatno, Sp.A penyebabnya bisa karena tiga hal. Pertama, kematian karena adanya kelainan bawaan semisal bayi lahir dengan kelainan jantung dan paru-paru yang memungkinkan kejadian kematiannya diprediksi. Terlebih bila kelainan tersebut merupakan salah satu faktor risiko. Kedua, kematian karena penyakit yang didapat, semisal radang paru-paru atau pneumonia maupun akibat suatu kecelakaan yang didapat di rumah, di jalan, atau di mana pun.Sementara kematian berikut yang lebih dikenal dengan istilah SIDS, agak sulit diprediksi. Sebab, kejadian kematian ini bersifat dadakan, hingga tak pernah bisa diperkirakan apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya.Menurut spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, angka kejadian SIDS di Amerika cukup tinggi, meski tak ada angka pastinya. Sementara di Indonesia, data mengenai berapa banyak kasus kejadiannya malah tak diketahui. Hanya saja di beberapa negara,kejadian SIDS cenderung meningkat. Terutama pada bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap.
Sebetulnya, jelas Bambang, posisi tidur tengkurap bermanfaat untuk mencegah terjadinya aspirasi/tersedak. Yakni, masuknya cairan muntahan ke dalam paru-paru yang bisa membahayakan. Selain itu, baik pula untuk pergerakan otot pernapasannya.
"Tapi posisi tidur ini mesti dicermati bila bayimemiliki kelainan
neurologis semisal
pergerakan kepalanya
susah." Meski tak ada
batasan waktu yang
baku, orang tua harus
tetap mengawasi bila
bayinya tidur dengan
posisi ini sekalipun bayi
punya insting untuk
membebaskan diri.
Artinya, jika napasnya
susah, ia akan bergerak
dengan sendirinya.
Sebenarnya, ujar
Bambang, ada beberapa
faktor yang bisa
mempengaruhi kejadian
SIDS. Di antaranya ;
Faktor Ibu
Selama masa kehamilan,
faktor diri ibu sangat
berpengaruh. Ibu yang
merokok, minum
minuman beralkohol,
mengonsumsi obat-
obatan secara bebas,
berpeluang memperoleh
bayi yang
pertumbuhannya
terganggu. Hal ini bisa
menjadi risiko faktor
penyebab terjadinya
SIDS.
Kelahiran Prematur
Prematuritas juga bisa
menjadi risiko terjadinya
SIDS karena organ-organ
tubuhnya yang belum
matang dan sempurna.
Demikian juga dengan
sistem pernapasannya
yang bisa menyebabkan
gangguan pada sistem
pernapasannya.
Sementara pada bayi
yang tidak dilahirkan
prematur, sistem
pernapasannya mulai
bagus/matang di usia 8
bulanan. Itu sebabnya
kasus SIDS jarang
dijumpai pada bayi atas
usia 6 bulan.
Sulit Napas
Sesudah bayi lahir, ada
kejadian yang
dinamakan asfiksia.
Yakni bayi mengalami
kesulitan bernapas.
Biasanya akan
menampakkan gejala
biru, susah bernapas, dan
berkurangnya denyut
jantung.
Disfungsi Pada Batang
Otak
Usia terbanyak kejadian
SIDS ditemui pada bayi
usia 2-4 bulan.
Sedangkan mayoritas
atau 95 persen, dijumpai
pada bayi di bawah 6
bulan. Penyebabnya,
kemungkinan terjadi
disfungsi atau gangguan
pada batang otak.
Gangguan ini
mengakibatkan
berubahnya pola
pernapasan si bayi.
Dalam bahasa Inggris
istilahnya arousal, yang
bisa digambarkan mirip
orang yang kekurangan
oksigen selagi tidur. Ini
membuatnya gelagapan
dan terbangun, tapi
kemudian bisa tertidur
lagi. Nah, pada bayi,
tingkat kewaspadaan
inilah yang terganggu
sementara ia tak mampu
mengatasinya.
Singkatnya, berawal dari
fungsi otak yang
terganggu/berkurang
tanpa diketahui
penyebabnya. Proses
arousal-nya pun jadi
kurang bagus yang
diikuti dengan pola tidur
dan kontrol kurang
bagus serta pola
pernapasannya juga tak
baik. Perubahan-
perubahan tersebut
menyebabkan gangguan/
perubahan denyut
jantung dan peningkatan
suhu tubuh. Akibatnya,
paru-parunya jadi
kekurangan oksigen lalu
menyebabkan gangguan
berhenti napas.
Posisi Tidur Tengkurap
Kejadian SIDS akibat
posisi tidur tengkurap
ternyata sekitar 3 kali
lebih besar dibanding
posisi terlentang. Ini bisa
dimengerti karena
pergerakan kepala pada
pada bayi usia 2 bulan
mestinya sudah kuat.
Sedangkan bayi dengan
gangguan di otak
umumnya tidak kuat
mengangkat kepalanya.
Akibatnya, posisi tidur
tengkurap memperbesar
kemungkinan terjadinya
SIDS. Belum lagi faktor
kasur yang sangat
empuk atau lunak, yang
menyebabkan kepalanya
"terbenam" ke dalam
kasur. Akibatnya, bayi
kesulitan mengangkat
kepalanya mencari udara
bebas. Di lain pihak,
sebetulnya kalau kondisi
si bayi normal-normal
saja (dalam arti tak ada
dasar gangguan otak),
maka posisi tidur
tengkurap tak memicu
terjadinya SIDS.
Sayangnya, ada-tidaknya
gangguan atau kelainan
pada batang otak bayi
baru lahir, tidak mudah
segera diketahui.
Sementara dari hasil
otopsi pada bayi-bayi di
luar negeri yang
mengalami SIDS,
ternyata kejadian ini
terutama terjadi pada
bayi-bayi yang memiliki
kelainan pada batang
otak, pembengkakan
pada paru-paru, dan
perdarahan pada daerah
sekitar dada. Semua itu
dapat terjadi akibat
kondisi asfiksia/kesulitan
bernapas akibat hipoksia
atau kekurangan oksigen
dalam jangka waktu
cukup lama dalam
darahnya.
Dialami Ras Tertentu
Soal ras ternyata
merupakan salah satu
faktor munculnya
kejadian SIDS yang
banyak terjadi pada
kalangan kulit hitam.
Namun, tandas Bambang,
itu kejadian di luar
negeri, sedangkan di
Indonesia belum ada
penelitiannya.
Kurang Pengawasan
Bisa pula terjadi bayi
tertutup selimut dalam
keadaan tidur. Tentu
saja risiko SIDS tetap
terbuka, terlebih bila
dibarengi dengan
kurangnya pengawasan
orang tua. Selama tetap
diawasi dengan baik,
menyelimuti bayi tak
akan jadi masalah. Selain
itu, pernah pula
dilaporkan bayi
mengalami SIDS karena
hidung dan mulutnya
tertutup payudara si ibu
saat menyusui.
Kemungkinan ini terjadi
bila ibu menyusui
bayinya sambil tiduran,
tapi kemudian tertidur
karena capek.
Tertutupnya mulut dan
hidung si bayi membuat
bayi seperti dibekap.
Bedong Terlalu Kuat
Karena ingin anaknya
merasa hangat, orang
tua biasanya
membedongnya kuat-
kuat. Padahal, mestinya
orang tua tahu, bayi
bernapas menggunakan
dada dan perut.
Bayangkan, bayi yang
dibebat kuat pasti
napasnya kembang-
kempis alias susah
payah. (Dedeh Kurniasih/
Tabloid Nakita)
Tuesday, November 24, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment