Monday, November 16, 2009

remaja

Kesehatan
Mental Remaja
oleh : nelimarhayati
Pengarang : Nelly
Marhayati, M.Si
(54 Tinjauan) Kunjungan : 4926 kata:900 Comments : 0
Dalam psikologi
perkembangan
remaja dikenal
sedang dalam fase
pencarian jati diri
yang penuh dengan
kesukaran dan
persoalan. Fase
perkembangan
remaja ini
berlangsung cukup
lama kurang lebih 11
tahun, mulai usia
11-19 tahun pada
wanita dan 12-20
tahun pada pria. Fase
perkebangan remaja
ini dikatakan fase
pencarian jati diri
yang penuh dengan
kesukaran dan
persoalan adalah
karena dalam fase ini
remaja sedang berada
di antara dua
persimpangan antara
dunia anak-anak dan
dunia orang-orang
dewasa.
Kesulitan dan
persoalan yang
muncul pada fase
remaja ini bukan
hanya muncul pada
diri remaja itu sendiri
melainkan juga pada
orangtua, guru dan
masyarakat. Dimana
dapat kita lihat
seringkali terjadi
pertentangan antara
remaja dengan
orangtua, remaja
dengan guru bahkan
dikalangan remaja itu
sendiri.
Mengapa hal ini
bisa terjadi? Secara
singkat dapat
dijelaskan bahwa
keberadaan remaja
yang ada di antara
dua persimpangan
fase
perkembanganlah
(fase interim) yang
membuat fase remaja
penuh dengan
kesukaran dan
persoalan. Dapat
dipastikan bahwa
seseorang yang
sedang dalam
keadaan transisi atau
peralihan dari suatu
keadaan ke keadaan
yang lain seringkali
mengalami gejolak
dan goncangan yang
terkadang dapat
berakibat buruk
bahkan fatal
(menyebabkan
kematian).(Syah,
2001)
Namun, pada
dasarnya semua
kesukaran dan
persoalan yang
muncul pada fase
perkembangan
remaja ini dapat
diminimalisir bahkan
dihilangkan, jika
orangtua, guru dan
masyarakat mampu
memahami
perkembangan jiwa,
perkembangan
kesehatan mental
remaja dan mampu
meningkatkan
kepercayaan diri
remaja.Persoalan
paling signifikan yang
sering dihadapi
remaja sehari-hari
sehingga
menyulitkannya untuk
beradaptasi dengan
lingkungannya adalah
hubungan remaja
dengan orang yang
lebih dewasa,
terutama sang ayah,
dan perjuangannya
secara bertahap
untuk bisa
membebaskan diri
dari dominasi mereka
pada level orang-
orang dewasa.
Seringkali orangtua
mencampuri urusan-
urusan pribadi
anaknya yang sudah
remaja dengan
mengajukan
pertanyaan-
pertanyaan sebagai
berikut, “Dimana
kamu semalam?”,
“Dengan siapa kamu
pergi?”, “Apa yang
kamu tonton?” dan
lain sebagainya.
Pertanyaan-
pertanyaan tersebut
pada dasarnya
ditujukan oleh
orangtua adalah
karena kepedulian
orangtua terhadap
keberadaan dan
keselamatan anak
remajanya. Namun
ditelinga dan
dipersepsi anak
pertanyaan-
pertanyaan tersebut
seperti introgasi
seorang polisi
terhadap seorang
criminal yang berhasil
ditangkap.
Menurut
pandangan para ahli
psikologi keluarga
atau orangtua yang
baik adalah orangtua
yang mampu
memperkenalkan
kebutuhan remaja
berikut tantangan-
tantangannya untuk
bisa bebas kemudian
membantu dan
mensupportnya
secara maksimal dan
memberikan
kesempatan serta
sarana-sarana yang
mengarah kepada
kebebasan. Selain itu
remaja juga diberi
dorongan untuk
memikul tanggung
jawab, mengambil
keputusan, dan
merencanakan masa
depannya. Namun,
proses pemahaman ini
tidak terjadi secara
cepat, perlu
kesabaran dan
ketulusan orangtua di
dalam membimbing
dan mengarahkan
anak remajanya.
Selanjutnya para
pakar psikologi
menyarankan strategi
yang paling bagus dan
cocok dengan remaja
adalah strategi
menghormati
kecenderungannya
untuk bebas merdeka
tanpa mengabaikan
perhatian orangtua
kepada mereka.
Strategi ini selain
dapat menciptakan
iklim kepercayaan
antara orangtua dan
anak, dapat juga
mengajarkan adaptasi
atau penyesuaian diri
yang sehat pada
remaja. Hal ini sangat
membantu
perkembangan,
kematangan, dan
keseimbangan jiwa
remaja. (Mahfuzh,
2001)
Pertumbuhan dan
perkembangan yang
terjadi selama masa
remaja tidak selalu
dapat tertangani
secara baik. Pada fase
ini di satu sisi remaja
masih menunjukkan
sifat kekanak-
kanakan, namun di
sisi lain dituntut untuk
bersikap dewasa oleh
lingkungannya.
Sejalan dengan
perkembangan
sosialnya, mereka
lebih konformitas
pada kelompoknya
dan mulai melepaskan
diri dari ikatan dan
kebergantungan
kepada orangtuanya,
dan sering
menunjukkan sikap
menantang otoritas
orangtuanya.
Remaja yang salah
penyesuaian dirinya
terkadang melakukan
tindakan-tindakan
yang tidak realistis,
bahkan cenderung
melarikan diri dari
tanggung jawabnya.
Perilaku mengalihkan
masalah yang
dihadapi dengan
mengkonsumsi
minuman beralkohol
banyak dilakukan oleh
kelompok remaja,
bahkan sampai
mencapai tingkat
ketergantungan
penyalahgunaan obat
terlarang dan zat
adiktif.
Berkaitan dengan
pelepasan tangung
jawab, dikalangan
remaja juga sering
dijumpai banyak
usaha untuk bunuh
diri. di Negara-negara
maju, seperti
Amerika, Jepang,
Selandia Baru,
masalah bunuh diri
dikalangan remaja
berada pada tingkat
yang memprihatinkan.
Sedangkan dinegara
berkembang seperti
Indonesia, perilaku
tidak sehat remaja
yang beresiko
kecelakaan juga
banyak dilakukan
remaja, seperti
berkendaraan secara
ugal-ugalan. Hal lain
yang menjadi
persoalan penting
dikalangan remaja
disemua negara
adalah, meningkatnya
angka delinkuensi.
Perilaku tersebut
misalnya keterlibatan
remaja dalam
perkelahian antar
sesame, kabur dari
rumah, melakukan
tindakan kekerasan,
dan berbagai
pelanggaran hukum,
adalah umum
dilakukan oleh
remaja.
Kesehatan mental
masyarakat pada
dasarnya tercermin
dari segi-segi
kesehatan mental
remaja. Makin tinggi
angka delikuensi,
bunuh diri remaja,
penggunaan obat dan
ketergantungan pada
zat adiktif, berarti
kesehatan mental
masyarakat makin
rendah.Usaha
bimbingan kesehatan
mental sangat penting
dilakukan dikalangan
remaja, dalam bentuk
program-program
khusus, seperti
peningkatan
kesadaran terhadap
kesehatan mental,
penyuluhan tentang
kehidupan berumah
tangga, hidup secara
sehat dan pencegahan
penggunaan zat-zat
adiktif, serta
penyuluhan tentang
pencegahan terhadap
HIV/AIDS, dan
sejenisnya.
Program kesehatan
mental remaja ini
dapat dilakukan
melalui institusi-
institusi formal
remaja, seperti
sekolah, dan dapat
pula melalui
intervensi-intervensi
lain seperti program-
program
kemasyarakatan, atau
program-program
yang dibuat khusus
untuk kelompok
remaja.

No comments:

Post a Comment