Friday, November 27, 2009

Beda Anak Hiperaktifdan Superaktif

shutterstock.com
"Anak saya dituding
nakal sekali karena tak
pernah diam. Bahkan,
ada yang bilang dia
hiperaktif. Bukankah
anak yang sehat
seharusnya memang
aktif dan hal ini normal-
normal saja?"
Ya, tak sedikit orangtua
yang bingung dengan
keaktifan anaknya.
Karena itulah, Sani B.
Hermawan, Direktur
Lembaga Psikologi Daya
Insani, Jakarta,
membeberkan ciri-ciri
dari ADHD, ADD,
superaktif, dan aktif,
sehingga orangtua dapat
membedakannya dan
memberikan penanganan
yang tepat bagi buah
hati tercinta.
1. ADHD (Attention
Deficit Hyperactivity
Disorder)
Ciri-ciri:
* Hiperaktivitas.
Anak tak bisa diam
dalam waktu lama dan
mudah teralihkan
perhatiannya pada hal
lain. Ciri lainnya, tidak
fokus bicara alias
mengeluarkan saja apa
yang ingin dikatakannya
tanpa peduli apakah
lawan bicara mengerti/
tidak apa yang
dibicarakannya. Anak
juga cuek ketika ada
yang memanggilnya.
* Anak sulit "diberi
tahu".
Bila orangtua melarang
atau memintanya
melakukan sesuatu, ia
cuek atau tetap
melakukan apa yang
ingin dilakukannya.
*Destruktif.
Anak suka merusak.
Mainan tak digunakan
sebagaimana mestinya,
tapi bisa dibanting-
banting hingga rusak.
* Impulsif.
Suka melakukan sesuatu
tanpa tujuan yang jelas,
sekadar menuruti
keinginannya saja. Misal,
ia ingin naik turun
tangga dan itu dilakukan
tanpa tujuan.
* Tak kenal lelah.
la bisa terus berlarian
keliling rumah seharian
meski orangtua sudah
memintanya berhenti.
* Intelektualitas rendah.
Karena perhatiannya
mudah teralihkan, dia
hanya menerima
informasi sepotong-
sepotong. Akibatnya, apa
yang diajarkan padanya
tidak utuh diterima.
2. ADD (Attention Deficit
Disorder)
Di Indonesia, kasus ADD
tak sebanyak ADHD.
Meski sama-sama
mengalami gangguan
pemusatan perhatian,
tapi anak ADD tak
disertai hiperaktivitas.
Walaupun sedang duduk
diam, anak sepertinya
mendengarkan
penjelasan yang
diberikan padanya, tapi
informasi itu hanya
diterima sepotong-
sepotong karena
perhatiannya mudah
teralihkan.
3. SUPERAKTIF
Ciri-ciri:
* Bisa tetap fokus.
Meski sekilas anak ini
terus bergerak/ tak bisa
diam, tapi dia tidak
mengalami gangguan
pemusatan perhatian. la
tetap fokus dengan apa
yang dikerjakannya saat
itu. Bila diberikan
mainan yang
membutuhkan
penyelesaian, seperti
pasel, ia akan
menyelesaikannya. Beda
dengan anak hiperaktif,
yang cepat bosan dan
tak menyelesaikan
permainannya.
* Konstruktif.
Tenaganya yang berlebih
digunakan untuk
menyelesaikan tugas
yang diberikan padanya.
Setidaknya, ia akan
berusaha untuk
menyusun secara
konstruktif permainan
yang diberikan.
* Bisa merasa lelah.
Setelah lelah melakukan
aktivitasnya, anak juga
bisa capek. Biasanya
kalau capek, ia akan
berhenti dan istirahat/
tidur.
* Intelektualitas lebih
baik.
4. AKTIF
Ciri-cirinya hampir sama
dengan anak superaktif,
bedanya, tenaga anak
aktif lebih sedikit.
Meski sama-sama terus
bergerak, tapi anak aktif
punya batasan yang
hampir sama dengan
anak normal. Umumnya
cerdas, ia terus bergerak
untuk mencari tahu hal-
hal yang membuatnya
penasaran. la bisa
menyelesaikan dengan
baik tugas yang
diberikan. Pada
beberapa bidang,
umumnya juga lebih
kreatif

Tuesday, November 24, 2009

Tidur Nyenyak = TumbuhKembang Optimal

Tidur
nyaman dengan waktu
tidur yang cukup
merupakan kebutuhan
pokok manusia, mulai
dari bayi sampai manula.
Banyak manfaat positif
dipetik dari bayi tidur,
salah satunya adalah
untuk tumbuh kembang
otak bayi.
Setiap orang mempunyai
waktu yang berbeda
untuk tidur, tergantung
pada usia dan kebiasaan.
Seorang bayi
membutuhkan lebih dari
setengah hari untuk
tidur. Dengan
bertambahnya usia,
waktu tidur pun semakin
berkurang.
Ketika kita tidur, hampir
semua organ tubuh
dihentikan atau
diperlambat, kecuali
otak yang tetap aktif.
Pada tahap tidur REM
(Rapid Eye Movement),
otak maksimal dalam
mengolah data dan
ingatan, yang kadang
muncul sebagai mimpi.
Menurut dr.Soedjatmiko,
Sp.A (K), ciri tidur REM
adalah adanya gerak
otot mata, tangan, atau
kaki.
"Pada tahap REM ini
pertumbuhan sel otak
berlangsung dengan
cepat. Selain mimpi,
terkadang anak
mengigau. Ini hal yang
normal," jelas dr.
Soedjatmiko di acara
"Sleep Symposium" yang
diadakan oleh Pampers,
beberapa waktu lalu.
Sementara itu, tidur non-
REM atau tahap tidur
tenang sangat penting
untuk pertumbuhan fisik
anak. "Di tahap ini
terjadi perbaikan sel-sel
tubuh dan terjadi
pertumbuhan," katanya.
Hal ini terjadi karena
saat tidur tubuh akan
mengeluarkan hormon
pertumbuhan yang akan
merangsang hati untuk
menghasilkan bahan
pertumbuhan tulang dan
otot.
Di usia dewasa, hormon
pertumbuhan ini beralih
fungsi. Ia akan berfungsi
untuk pemeliharaan dan
perbaikan jaringan
tubuh, selain untuk
mempercepat proses
pertumbuhan. Manfaat
lain dari tidur adalah
ikut andil dalam
meningkatkan daya
tahan tubuh anak
terhadap infeksi. Ini
berarti, anak yang
kurang tidur lebih rentan
terkena penyakit.
Tahap tidur REM dan
non-REM ini berlangsung
bergantian sepanjang
waktu tidur anak. Oleh
sebab itu, tidur yang
nyenyak sangat penting
untuk anak agar fase
tidur REM dan non-REM
nya tidak terganggu.
"Bila fase tidur itu
terganggu, saat bangun
anak jadi uring-uringan
atau rewel," kata
Soedjatmiko.
Lantas, berapa waktu
tidur yang dibutuhkan
oleh anak? "Ini sangat
individual. Patokannya
adalah saat bangun anak
happy," ujar dokter yang
menjadi ketua Divisi
Tumbuh Kembang Anak
dari Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-
RSCM ini.

Ketika Bayi Mendadak tak Bernyawa

Tak sedikit terjadi, bayi tewas saat tidur. Terutama dalam posisi tengkurap. Karena tak terduga, tindak pencegahannya pun nyaris mustahil. Tak bisa dibayangkan bagaimana terpukulnya perasaan orang tua yang baru dikaruniai bayi yang tampak sehat dan normal namun mendadak menemukan bayinya dalam keadaan biru tak bernyawa di dalam boksnya. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi pada bayi yang mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)?
Sebetulnya, bicara masalah kematian pada bayi, jelas dr. Bambang Supriyatno, Sp.A penyebabnya bisa karena tiga hal. Pertama, kematian karena adanya kelainan bawaan semisal bayi lahir dengan kelainan jantung dan paru-paru yang memungkinkan kejadian kematiannya diprediksi. Terlebih bila kelainan tersebut merupakan salah satu faktor risiko. Kedua, kematian karena penyakit yang didapat, semisal radang paru-paru atau pneumonia maupun akibat suatu kecelakaan yang didapat di rumah, di jalan, atau di mana pun.Sementara kematian berikut yang lebih dikenal dengan istilah SIDS, agak sulit diprediksi. Sebab, kejadian kematian ini bersifat dadakan, hingga tak pernah bisa diperkirakan apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya.Menurut spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, angka kejadian SIDS di Amerika cukup tinggi, meski tak ada angka pastinya. Sementara di Indonesia, data mengenai berapa banyak kasus kejadiannya malah tak diketahui. Hanya saja di beberapa negara,kejadian SIDS cenderung meningkat. Terutama pada bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap.
Sebetulnya, jelas Bambang, posisi tidur tengkurap bermanfaat untuk mencegah terjadinya aspirasi/tersedak. Yakni, masuknya cairan muntahan ke dalam paru-paru yang bisa membahayakan. Selain itu, baik pula untuk pergerakan otot pernapasannya.
"Tapi posisi tidur ini mesti dicermati bila bayimemiliki kelainan
neurologis semisal
pergerakan kepalanya
susah." Meski tak ada
batasan waktu yang
baku, orang tua harus
tetap mengawasi bila
bayinya tidur dengan
posisi ini sekalipun bayi
punya insting untuk
membebaskan diri.
Artinya, jika napasnya
susah, ia akan bergerak
dengan sendirinya.
Sebenarnya, ujar
Bambang, ada beberapa
faktor yang bisa
mempengaruhi kejadian
SIDS. Di antaranya ;
Faktor Ibu
Selama masa kehamilan,
faktor diri ibu sangat
berpengaruh. Ibu yang
merokok, minum
minuman beralkohol,
mengonsumsi obat-
obatan secara bebas,
berpeluang memperoleh
bayi yang
pertumbuhannya
terganggu. Hal ini bisa
menjadi risiko faktor
penyebab terjadinya
SIDS.
Kelahiran Prematur
Prematuritas juga bisa
menjadi risiko terjadinya
SIDS karena organ-organ
tubuhnya yang belum
matang dan sempurna.
Demikian juga dengan
sistem pernapasannya
yang bisa menyebabkan
gangguan pada sistem
pernapasannya.
Sementara pada bayi
yang tidak dilahirkan
prematur, sistem
pernapasannya mulai
bagus/matang di usia 8
bulanan. Itu sebabnya
kasus SIDS jarang
dijumpai pada bayi atas
usia 6 bulan.
Sulit Napas
Sesudah bayi lahir, ada
kejadian yang
dinamakan asfiksia.
Yakni bayi mengalami
kesulitan bernapas.
Biasanya akan
menampakkan gejala
biru, susah bernapas, dan
berkurangnya denyut
jantung.
Disfungsi Pada Batang
Otak
Usia terbanyak kejadian
SIDS ditemui pada bayi
usia 2-4 bulan.
Sedangkan mayoritas
atau 95 persen, dijumpai
pada bayi di bawah 6
bulan. Penyebabnya,
kemungkinan terjadi
disfungsi atau gangguan
pada batang otak.
Gangguan ini
mengakibatkan
berubahnya pola
pernapasan si bayi.
Dalam bahasa Inggris
istilahnya arousal, yang
bisa digambarkan mirip
orang yang kekurangan
oksigen selagi tidur. Ini
membuatnya gelagapan
dan terbangun, tapi
kemudian bisa tertidur
lagi. Nah, pada bayi,
tingkat kewaspadaan
inilah yang terganggu
sementara ia tak mampu
mengatasinya.
Singkatnya, berawal dari
fungsi otak yang
terganggu/berkurang
tanpa diketahui
penyebabnya. Proses
arousal-nya pun jadi
kurang bagus yang
diikuti dengan pola tidur
dan kontrol kurang
bagus serta pola
pernapasannya juga tak
baik. Perubahan-
perubahan tersebut
menyebabkan gangguan/
perubahan denyut
jantung dan peningkatan
suhu tubuh. Akibatnya,
paru-parunya jadi
kekurangan oksigen lalu
menyebabkan gangguan
berhenti napas.
Posisi Tidur Tengkurap
Kejadian SIDS akibat
posisi tidur tengkurap
ternyata sekitar 3 kali
lebih besar dibanding
posisi terlentang. Ini bisa
dimengerti karena
pergerakan kepala pada
pada bayi usia 2 bulan
mestinya sudah kuat.
Sedangkan bayi dengan
gangguan di otak
umumnya tidak kuat
mengangkat kepalanya.
Akibatnya, posisi tidur
tengkurap memperbesar
kemungkinan terjadinya
SIDS. Belum lagi faktor
kasur yang sangat
empuk atau lunak, yang
menyebabkan kepalanya
"terbenam" ke dalam
kasur. Akibatnya, bayi
kesulitan mengangkat
kepalanya mencari udara
bebas. Di lain pihak,
sebetulnya kalau kondisi
si bayi normal-normal
saja (dalam arti tak ada
dasar gangguan otak),
maka posisi tidur
tengkurap tak memicu
terjadinya SIDS.
Sayangnya, ada-tidaknya
gangguan atau kelainan
pada batang otak bayi
baru lahir, tidak mudah
segera diketahui.
Sementara dari hasil
otopsi pada bayi-bayi di
luar negeri yang
mengalami SIDS,
ternyata kejadian ini
terutama terjadi pada
bayi-bayi yang memiliki
kelainan pada batang
otak, pembengkakan
pada paru-paru, dan
perdarahan pada daerah
sekitar dada. Semua itu
dapat terjadi akibat
kondisi asfiksia/kesulitan
bernapas akibat hipoksia
atau kekurangan oksigen
dalam jangka waktu
cukup lama dalam
darahnya.
Dialami Ras Tertentu
Soal ras ternyata
merupakan salah satu
faktor munculnya
kejadian SIDS yang
banyak terjadi pada
kalangan kulit hitam.
Namun, tandas Bambang,
itu kejadian di luar
negeri, sedangkan di
Indonesia belum ada
penelitiannya.
Kurang Pengawasan
Bisa pula terjadi bayi
tertutup selimut dalam
keadaan tidur. Tentu
saja risiko SIDS tetap
terbuka, terlebih bila
dibarengi dengan
kurangnya pengawasan
orang tua. Selama tetap
diawasi dengan baik,
menyelimuti bayi tak
akan jadi masalah. Selain
itu, pernah pula
dilaporkan bayi
mengalami SIDS karena
hidung dan mulutnya
tertutup payudara si ibu
saat menyusui.
Kemungkinan ini terjadi
bila ibu menyusui
bayinya sambil tiduran,
tapi kemudian tertidur
karena capek.
Tertutupnya mulut dan
hidung si bayi membuat
bayi seperti dibekap.
Bedong Terlalu Kuat
Karena ingin anaknya
merasa hangat, orang
tua biasanya
membedongnya kuat-
kuat. Padahal, mestinya
orang tua tahu, bayi
bernapas menggunakan
dada dan perut.
Bayangkan, bayi yang
dibebat kuat pasti
napasnya kembang-
kempis alias susah
payah. (Dedeh Kurniasih/
Tabloid Nakita)

Wednesday, November 18, 2009

PERTUMBUHAN FISIK DAN KESEHATAN REMAJA

oleh : Melly Latifah
(2008)
1. Definisi Remaja
Remaja didefinisikan
sebagai tahap
perkembangan transisi
yang membawa individu
dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa, yang
ditandai dengan
perubahan fisik karena
pubertas serta
perubahan kognitif dan
sosial. Menurut Seifert
dan Hoffnung (1987),
periode ini umumnya
dimulai sekitar usia 12
tahun hingga akhir masa
pertumbuhan fisik, yaitu
sekitar usia 20 tahun.
2. Pandangan Teoritis
tentang Remaja
Ada dua pandangan
teoritis tentang remaja.
Menurut pandangan
teoritis pertama – yang
dicetuskan oleh psikolog
G. Stanley Hall – :
adolescence is a time of
“storm and stress “.
Artinya, remaja adalah
masa yang penuh dengan
“badai dan tekanan
jiwa”, yaitu masa di
mana terjadi perubahan
besar secara fisik,
intelektual dan
emosional pada
seseorang yang
menyebabkan kesedihan
dan kebimbangan
(konflik) pada yang
bersangkutan, serta
menimbulkan konflik
dengan lingkungannya
(Seifert & Hoffnung,
1987). Dalam hal ini,
Sigmund Freud dan Erik
Erikson meyakini bahwa
perkembangan di masa
remaja penuh dengan
konflik. Keyakinan ini
tercermin dari teori
mereka tentang
perkembangan manusia.
Menurut pandangan
teoritis kedua, masa
remaja bukanlah masa
yang penuh dengan
konflik seperti yang
digambarkan oleh
pandangan yang
pertama. Banyak remaja
yang mampu beradaptasi
dengan baik terhadap
perubahan yang terjadi
pada dirinya, serta
mampu beradaptasi
dengan baik terhadap
perubahan kebutuhan
dan harapan dari orang
tua dan masyarakatnya.
Bila dikaji, kedua
pandangan tersebut ada
benarnya, namun sangat
sedikit remaja yang
mengalami kondisi yang
benar-benar ekstrim
seperti kedua pandangan
tersebut (selalu penuh
konflik atau selalu dapat
beradaptasi dengan
baik). Kebanyakan
remaja mengalami kedua
situasi tersebut (penuh
konflik atau dapat
beradaptasi dengan
mulus) secara bergantian
(fluktuatif).
3. Pertumbuhan Fisik
Remaja
Seseorang akan
mengalami pertumbuhan
fisik (tinggi dan berat
badan) yang sangat
pesat pada usia remaja
yang dikenal dengan
istilah growth spurt.
Growth spurt merupakan
tahap pertama dari
serangkaian perubahan
yang membawa
seseorang kepada
kematangan fisik dan
seksual.
Pada usia 12 tahun,
tinggi badan rata-rata
remaja putra USA sekitar
150, sementara remaja
putri sekitar 154 cm.
Pada usia 18 tahun,
tinggi rata-rata remaja
putra USA sekitar 177
cm, sedangkan remaja
putri hanya 163 cm.
Kekepatan pertumbuhan
tertinggi pada remaja
putri terjadi sekitar usia
11 – 12 tahun, sementara
pada remaja putra, dua
tahun lebih lambat. Pada
masa pertumbuhan
maksimum ini, remaja
putri bertambah tinggi
badannya sekitar 3 inci,
sementara remaja putra
bertambah lebih dari 4
inci per tahunnya
(Marshall, dalam Seifert
& Hoffnung, 1987).
Seperti halnya tinggi
badan, pertumbuhan
berat badan juga
meningkat pada usia
remaja. Pertumbuhan
berat badan ini lebih
sulit diprediksi daripada
tinggi badan, dan lebih
mudah dipengaruhi oleh
diet, latihan fisik, dan
pola hidup.
Pada usia remaja, tubuh
remaja putri lebih
berlemak daripada
remaja putra. Selama
masa pubertas, lemak
tubuh remaja putra
menurun dari sekitar 18 –
19 % menjadi 11 % dari
bobot tubuh. Sementara
pada remaja putri, justru
meningkat dari sekitar
21 % menjadi sekitar 26 –
27 % (Sinclair, dalam
Seifert & Hoffnung, 1987).
Saat ini, remaja
mengalami perubahan
fisik (dalam tinggi dan
berat badan) lebih awal
dan cepat berakhir
daripada orang tuanya.
Kecenderungan ini
disebut trend secular.
Sebagai contoh, seratus
tahun yang lalu, remaja
USA dan Eropa Barat
mulai menstruasi sekitar
usia 15 – 17 tahun,
sekarang sekitar 12 – 14
tahun. Di tahun 1880,
laki-laki mencapai tinggi
badan sepenuhnya pada
usia 23 – 24 tahun dan
perempuan pada usia 19
– 20 tahun, sekarang
laki-laki mencapai tinggi
maksimum pada usia 18 –
20 dan perempuan pada
usia 13 – 14 tahun.
Trend secular terjadi
sebagai akibat dari
meningkatnya faktor
kesehatan dan gizi, serta
kondisi hidup yang lebih
baik. Sebagai contoh,
meningkatnya tingkat
kecukupan gizi dan
perawatan kesehatan,
serta menurunnya angka
kesakitan (morbiditas) di
usia bayi dan kanak-
kanak.
4. Pubertas
Pubertas adalah periode
pada masa remaja awal
yang dicirikan dengan
perkembangan
kematangan fisik dan
seksual sepenuhnya
(Seifert & Hoffnung,
1987). Pubertas ditandai
dengan terjadinya
perubahan pada ciri-ciri
seks primer dan
sekunder.
Ciri-ciri seks primer
memungkinkan
terjadinyanya
reproduksi. Pada wanita,
ciri-ciri ini meliputi
perubahan pada vagina,
uterus, tube fallopi, dan
ovari. Perubahan ini
ditandai dengan
munculnya menstruasi
pertama. Pada pria, ciri-
ciri ini meliputi
perubahan pada penis,
scrotum, testes, prostate
gland, dan seminal
vesicles. Perubahan ini
menyebabkan produksi
sperma yang cukup
sehingga mampu untuk
bereproduksi, dan
perubahan ini ditandai
dengan keluarnya
sperma untuk pertama
kali (biasanya melalui
wet dream).
Ciri-ciri seks sekunder
meliputi perubahan pada
buah dada, pertumbuhan
bulu-bulu pada bagian
tertentu tubuh, serta
makin dalamnya suara.
Perubahan ini erat
kaitannya dengan
perubahan hormonal.
Hormon adalah zat kimia
yang diproduksi oleh
kelenjar endokrin,
kemudian dilepaskan
melalui aliran darah
menuju berbagai organ
tubuh.
Kelenjar seks wanita
(ovaries) dan pria
(testes) mengandung
sedikit hormon. Hormon
ini berperan penting
dalam pematangan
seksual. Kelenjar
pituitary (yang berada di
dalam otak) merangsang
testes dan ovaries untuk
memproduksi hormon
yang dibutuhkan. Proses
ini diatur oleh
hypothalamus yang
berada di atas batang
otak.
5. Dampak Pertumbuhan
Fisik terhadap Kondisi
Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang
sangat pesat pada masa
remaja awal ternyata
berdampak pada kondisi
psikologis remaja, baik
putri maupun putra.
Canggung, malu, kecewa,
dll. adalah perasaan yang
umumnya muncul pada
saat itu.
Hampir semua remaja
memperhatikan
perubahan pada tubuh
serta penampilannya.
Perubahan fisik dan
perhatian remaja
berpengaruh pada citra
jasmani (body image) dan
kepercayaan dirinya
(self-esteem).
Ada tiga jenis bangun
tubuh yang
menggambarkan tentang
citra jasmani, yaitu
endomorfik, mesomorfik
dan ektomorfik.
Endomorfik banyak
lemak sedikit otot
(padded). Ektomorfik
sedikit lemak sedikit
otot (slender).
Mesomorfik sedikit
lemak banyak otot
(muscular).
6. Masalah Kesehatan
pada Remaja
Remaja merupakan usia
paling sehat dibanding
kanak-kanak dan dewasa
karena sedikitnya
penyakit yang dialami
kelompok usia ini. Akan
tetapi, remaja memiliki
resiko kesehatan paling
tinggi karena faktor
kecelakaan, alkohol,
narkoba, hamil diluar
nikah, kebiasaan makan
(diet) dan perilaku hidup
sehat yang buruk
Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung,
R.J. (1987). Child and
Adolescent Development.
Boston : Houghton Mifflin
Co.

Monday, November 16, 2009

Daftar Makanan Berbahaya

Daftar Makanan
Anak Indonesia
Biang Kanker
oleh : tedifa
Pengarang : Teguh
Vedder
(2 Tinjauan) Kunjungan : 91 kata:300 Comments : 0
Saat ini para orang
tua diharapkan extra
hati-hati terhadap
makanan atau jajanan
yang kerap
dikonsumsi anak kita.
Banyak data yang
menyebutkan bahwa
ternyata banyak
sekali jajanan anak-
anak kita yang
menjadi biang
penyakit kanker.
Entah disengaja
ataupun tidak, yang
jelas hal ini harus kita
waspadai. Berikut ini
beberapa daftar
makanan yang
sebaiknya dihindari
(biang kanker)
Daftar Makanan Anak
Indonesia Biang
Kanker :
1. Okky Jelly Drink
2. Okky Bolo Drink
3. Inaco Jelly
4. Happydent White
5. Alloy Jelly
6. Donna Jelly
7. Lotte Juicy Fresh
8. Hore
9. Jas Jus
10. Disney SegarSari
11. Nutrisari Hangat
12. Segar Dingin
13. Frutilo Magic
14. Fortiplus
15. Vidoran Freshdrink
16. Hemaviton Jreng
17. Pop Ice
18. Ice Milk Juus
19. Naturade Gold
20. MariMas
21. Finto
22. Buah Sari
23. MariTeh Instan
24. Teh Sisri
25. Marimas degan
26. Kola-Kola
27. Sparta
28. Pop Drink
Diterbitkan di:
Agustus 10, 2009

Diet

4 Cara Mengontrol
Nafsu Makan

Banyak nasihat
seputar diet. Namun,
satu fakta yang tak
terelakkan, kita
terlalu banyak
makan. Saat ini,
setidaknya dua
pertiga penduduk
dewasa Amerika
mengalami kondisi
obesitas. Jika dirata-
rata, maka berat
tubuh wanita dan pria
saat ini bertambah
sekitar 8 kg (18 pon)
dibandingkan berat
rata-rata manusia
pada tahun 1970-an.
Sementara itu, bagian
dari otak yang
meregulasi rasa lapar
—hypothalamus—
belum berevolusi
sejak 30 tahun lalu.
Jadi, sudah jelas
bahwa ini berkaitan
dengan asupan kita.
Supaya tidak
bertambah lagi, Anda
bisa mencoba lakukan
hal-hal berikut untuk
mengontrol nafsu
makan Anda.
1. Berikan "rating"
rasa lapar
Sebelum Anda
mengunyah atau
memasukkan sesuatu
ke dalam mulut,
berikan rating apa
yang Anda rasakan
dalam perut Anda
dengan skala 1 hingga
5. Angka 1 untuk
sangat lapar, dan 5
untuk rasa kenyang.
Ketika rating Anda
mencapai angka 4-5,
berarti keinginan
Anda bukan berasal
dari fisik dan butuh
makan sehingga Anda
perlu menelisik lagi
apa yang membuat
Anda ingin makan.
Alasan paling umum
untuk makan ketika
berada di rating 4-5
adalah karena bosan
atau stres. Cara untuk
mengatasinya antara
lain dengan
melakukan aktivitas
yang tak berhubungan
dengan kegiatan
makan, misal
bercengkerama
dengan teman,
berjalan-jalan, atau
membaca.
2. Pikirkan apa yang
Anda makan
Stimulus-stimulus luar
sering kali
mengganggu saat kita
sedang makan.
Gangguan-gangguan
ini sering kali
membuat kita makan
tanpa berpikir berapa
banyak yang sudah
kita makan. Sebuah
eksperimen yang
dilakukan oleh Brian
Wansink, pengarang
Mindless Eating, yang
dilakukan di
Laboratorium Cornell
University Food and
Brand menegaskan
hal ini. Para peneliti
meminta para subyek
untuk mengonsumsi
sup dari sebuah
mangkuk yang sudah
diberikan pipa pengisi
di bagian bawahnya.
Selama mereka
makan, mangkuk
terus-terusan diisi sup
dari bawah tanpa
sepengetahuan
mereka. Hasilnya,
mereka mampu
mengonsumsi
makanan 73 persen
lebih banyak dari
mereka yang makan
dari mangkuk biasa.
Artinya: makan
dengan cukup butuh
perhatian,
perencanaan, dan
kemampuan untuk
menahan diri.
3. Waspada pencetus
Dalam buku
terbarunya, The End
of Overeating,
mantan Kepala Food
and Drug
Administration (FDA),
David Kessler,
berteori bahwa kita
makan saat tak lapar
karena kombinasi dari
lemak, gula, dan
garam yang terdapat
di camilan sulit untuk
kita tolak. Semakin
banyak bahan
makanan ini kita
makan, semakin
banyak dopamin
(neurotransmitter
yang terasosiasi
dengan kepuasan)
yang diproduksi otak
kita, makin banyak
pula yang kita
konsumsi. Seiring
waktu, hanya dengan
melihat atau mencium
aroma makanan
tertentu, hal itu sudah
cukup membuat otak
bagian kepuasan kita
aktif.
Untuk itu, ia
menyarankan untuk
memilih kudapan
yang tak melewati
pengolahan, dan tidak
banyak mengandung
lemak, gula, dan
garam. Rencanakan
makanan dan
kudapan jauh-jauh
dari waktunya.
Hindari situasi
pencetus (jika rumah
Anda melewati
bakery, pilihlah rute
yang lain), atau
bayangkan makanan
yang sebenarnya tak
baik untuk Anda
dengan gambar yang
tak mengenakkan
(misal, asosiasikan es
krim dengan lemak
setumpuk).
4. Makanan yang
memiliki isi
Barbara Rolls, peneliti
nutrisi, menemukan
bahwa manusia tidak
terlalu berpatokan
pada jumlah kalori
yang mereka asup
untuk menandakan
sudah kenyang.
Sebaliknya, manusia
lebih sering
menandakan
kekenyangan dengan
melihat jumlah atau
banyaknya makanan
di hadapan mereka.
Rolls memberikan
rekomendasi untuk
mengelabui tubuh
Anda. Caranya
dengan memilih
makanan yang
mengandung banyak
air, seperti sayuran,
buah-buahan, dan sup
bening.
Protein dan serat juga
bisa membantu
seseorang mencapai
rasa kenyang tanpa
perlu makan
berlebihan. Makanan
seperti salmon, dada
ayam, yogurt tanpa
lemak, keju rendah
lemak, sayuran,
oatmeal, kacang
polong, dan sup
ayam-sayur bisa jadi
pilihan.
NAD
Sumber : msn

Belajar

Psikologi Gestalt
bermula pada
lapangan pengamatan
( persepsi ) dan
mencapai sukses yang
terbesar juga dalam
lapangan ini.
Demonstrasinya
mengenai peranan
latar belakang dan
organisasinya
terhadap proses-
proses yang diamati
secara fenomenal
demikian meyakinkan
sehingga boleh
dikatakan tidak dapat
di bantah.
Ketika para ahli
Psikologi Gestalt
beralih dari masalah
pengamatan ke
masalah belajar,
maka hasil-hasil yang
telah kuat / sukses
dalam penelitian
mengenai
pengamatan itu
dibawanya dalam
studi mengenai
belajar . Karena
asumsi bahwa hukum
– hukum atau prinsip-
prinsip yang berlaku
pada proses
pengamatan dapat
ditransfer kepada hal
belajar, maka untuk
memahami proses
belajar orang perlu
memahami hukum-
hukum yang
menguasai proses
pengamatan itu.
Pada pengamatan itu
menekankan
perhatian pada
bentuk yang
terorganisasi
(organized form) dan
pola persepsi
manusia . Pemahaman
dan persepsi tentang
hubungan-hubungan
dalam kebulatan
(entities) adalah
sangat esensial dalam
belajar. Psikologi
Gestalt ini terkenal
juga sebagai teori
medan (field) atau
lazim disebut
cognitive field theory.
Kelompok pemikiran
ini sependapat pada
suatu hal yakni suatu
prinsip dasar bahwa
pengalaman manusia
memiliki kekayaan
medan yang memuat
fenomena
keseluruhan lebuh
dari pada bagian-
bagiannya.
Keseluruhan ini
memberikan
beberapa prinsip
belajar yang penting,
antara lain :
1. Manusia bereaksi
dengan lingkunganya
secara keseluruhan,
tidak hanya secara
intelektual, tetapi
juga secara fisik,
emosional,sosial dan
sebagainya
2. Belajar adalah
penyesuaian diri
dengan lingkungan.
3. Manusia
berkembang sebagai
keseluruhan sejak
dari kecil sampai
dewasa, lengkap
dengan segala aspek-
aspeknya.
4. Belajar adalah
perkembangan
kearah diferensiasi
ynag lebih luas.
5. Belajar hanya
berhasil, apabila
tercapai kematangan
untuk memperoleh
insight.
6. Tidak mungkin ada
belajar tanpa ada
kemauan untuk
belajar, motivasi
membei dorongan
yang mengerakan
seluruh organisme.
7. Belajar akan
berhasil kalau ada
tujuan.
8. Belajar merupakan
suatu proses bila
seseorang itu aktif,
bukan ibarat suatu
bejana yang diisi.
Belajar sangat
menguntungkan untuk
kegiatan
memecahakan
masalah. Hal ini
nampaknya juga
relevan dengan
konsep teori belajar
yang diawali dengan
suatu pengamatan.
Belajar memecahkan
masalah diperlukan
suatu pengamatan
secara cermat dan
lengkap. Kemudian
bagaiman seseorang
itu dapat
memecahknan
masalah mrnurut J.
Dewey ada 5 upaya
pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya
masalah. Jadi harus
memehami apa
masalahnya dan juga
harus dapat
merumuskan
2. Mengajukan
hipotesa, sebagai
suatu jalan yang
mungkin memberi
arah pemecahan
masalah.
3. Mengumpulkan
data atau informasi,
dengan bacaan atau
sumber-sumber lain.
4. Menilai dan
mencobakan usah
pembuktian hipotesa
dengan keterangan-
keterangan yang
diperoleh.
5. Mengambil
kesimpulan, membuat
laporan atau
membuat sesuatu
dengan hasil
pemecahan soal itu.
Teori medan ini
mengibaratkan
pengalaman manusia
sebagai lagu atau
melodi yang lebih
daripada kumpulan
not, demikian pila
pengalaman manusia
tidak dapat dipersepsi
sebagai sesuatu yang
terisolasi dari
lingkungannya.
Dengan kata lain
berbeda dengan teori
asosiasi maka toeri
medan ini melihat
makna dari suatu
fenomena yang relatif
terhadap
lingkungannya.
Sesuatu dipersepsi
sebagai pendek jika
objek lain lebih
panjang. Warna abu-
abu akan terlihat
lebih cerah pada
bidang berlaatr
belakang hitam pekat.
Warna abu-abu akan
terliaht biru pada
latar berwarna
kuning.
Belajar
melibatkanproses
mengorganisasikan
pengalaman-
pengalaman kedalam
pola-pola yang
sistematis dan
bermakna. Belajar
bukan merupakan
penjumalahan (aditif),
sebaliknya belajar
mulai dengan
mempersepsi
keseluruhan, lambat
laun terjadi proses
diferensiasi, yakni
menangkapbagian
bagian dan detail
suatu objek
pengalaman. Dengan
memahami bagian /
detail, maka persepsi
awalakan keseluruhan
objek yang semula
masih agak kabur
menjadi semakin
jelas. Belajar menurut
paham ini merupakan
bagian dari masalah
yang lebih besar yakni
mengorganisasikan
persepsi kedalam
suatu struktur yang
lebih kompleks yang
makin menambah
pemahaman akan
medan. Medan
diartikan
sebagaikeseluruhan
dunia yang bersifat
psikologis. Seseorang
meraksi terhadap
lingkungan seauai
dengan persepsinya
terhadap lingkungan
pada saat tersebut.
Manusia mempersepsi
lingkungan secara
selektif, tidak semua
objek masuk kedalam
fokus persepsi
individu, sebagian
berfungsi hanya
sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada
psikologi medan ini
adalah sifat
bertujuandari prilaku
manusia. Individu
menetaokan tujuan
berdasarkan tilikan
(insight) terhadap
situasi yang
dihadapinya.
Prilakunya akan
dinilai cerdas atau
dungu tergantung
kepada memdai atau
tidaknya
pemahamanya akan
situasi
Dalam hukum-hukum
belajar Gestalt ini ada
satu hukum pokok ,
yaitu hukum Pragnaz,
dan empat hukum
tambahan (subsider)
yang tunduk kepada
hukum yang pokok
itu,yaitu hukum –
hukum keterdekatan ,
ketertutupan,
kesamaan , dan
kontinuitas.

Kecerdasan

Kecerdasan
Jamak
oleh : nelimarhayati
Pengarang : nelly
marhayati
(15 Tinjauan) Kunjungan : 851 kata:900 Comments : 0
Sehubungan dengan
peningkatan kualitas
pendidikan para ahli
psikologi pendidikan
mencoba
memunculkan satu
wacana baru yang
patut kiranya untuk
kita pahami dan kita
terapkan. Wacana
tersebut adalah
tentang multiple
intelegences.
Wacana ini muncul
adalah untuk
memotivasi orangtua
ataupun pendidik
untuk tidak merasa
bahwa seorang anak
itu bodoh walaupun
hanya karena
memiliki IQ rendah.
Karena dengan
mengetahui apa saja
kecerdasan jamak
akan memotivasi
orangtua dan juga
guru untuk menggali
kecerdasan-
kecerdasan lain dari
anak. Sehingga
perkembangan
kehidupan anak ke
depan baik social
emosi maupun
perkembangan
kepribadiannya tidak
terhambat hanya
dengan rendahnya
nilai IQ.
Intelligensi jamak
(multiple
intelligences)
merupakan temuan
dan terobosan baru di
dalam bidang
intelligensi yang
ditemukan oleh
Howard Gardner
(1993 :xii-xiii).
Beberapa alasan yang
dikemukan oleh
Gardner tentang
temuannya tersebut di
antaranya adalah
isolasi potensial oleh
kerusakan otak.
Berdasarkan
penelitian yang
dilakukan oleh
Gardner cs,
ditemukan bahwa
seseorang yang
mengalami
kecelakaan dan
ternyata ada
pengaruhnya
terhadap otaknya.
Misalnya, seseorang
yang rusak ‘bagian’
depan otaknya, maka
kecerdasan
linguistiknya rusak,
sehingga ia sukar
berbicara, membaca,
dan menulis, namun ia
masih bisa melakukan
matematika,
menyanyi menari, dan
berhubungan dengan
orang lain. Gardner
menyimpulkan bahwa
ada paling tidak tujuh
daerah yang otonom
dalam sistem otak
dan masing-masing
mempengaruhi satu
macam kecerdasan
dan mempengaruhi
keberadaan anak
’ super’.
Pada seseorang jika
ada satu perangkat
kecerdasan yang
sangat tinggi
membuat orang itu
lemah dalam
beberapa kecerdasan
lainnya. Misalnya,
seseorang yang tinggi
logika-
matematikanya,
lemah dalam
berkomunikasi, fungsi
berbahasanya. Setiap
kecerdasan pada anak
usia dini muncul pada
saat tertentu sesuai
irama
perkembangannya
seperti yang
dikemukakan oleh
Piaget (1971) yang
merentang dari fase
sensorimotor (0-2
tahun), fase
praoperasional (2-7
tahun), fase operasi
kongkrit (7-12 tahun)
dan fase operasi
formal (12 sampai
usia dewasa).
Fakta sejarah yang
menunjukkan bahwa
perkembangan
kecerdasan jamak
ditunjang oleh hasil
penelitian yang
menemukan bahwa
sejak zaman dahulu
manusia telah
menggunakan
kecerdasan jamak.
Hal ini dapat dilihat
dari gambar-gambar
di gua-gua kuno.
Selain alasan tersebut
di atas temuan
psikometrik
menunjang
keberadaan
intelligensi jamak hal
ini dapat dilihat dari
materi menggali
informasi dan kosa
kata di dalam tes
baku IQ.
Selain fakta sejarah di
atas alasan
selanjutnya adalah
berbagai temuan
penelitian yang
berkaitan dengan
psikologi
eksperimental yang
mengemukakan
bahwa seseorang
yang memiliki
kemampuan khusus
dalam membaca
belum tentu dapat
mentransfer
kemampuan tersebut
ke dalam logika
matematika. dengan
baik. Selain hal
tersebut terdapat
adanya operasi inti
atau seperangkat
operasi masing-
masing intelegensi.,
seperti pada
kecerdasan musik,
kecerdasan ini
ditunjang oleh
kepekaan dalam
membedakan
berbagai struktur
irama. Selanjutnya
kecerdasan bodily
kinesthetic, ditunjang
oleh kemampuan
meniru gerakan tubuh
orang lain,
kemampuan
membangun rutinitas
gerakan motorik
halus.
Lazaer (2000:7)
mengemukakan
bahwa kecerdasan
jamak (multiple
Inteligences)
merupakan
perkembangan
mutakhir dalam
bidang intelligensi
yang menjelaskan hal-
hal yang berkaitan
dengan jalur-jalur
yang digunakan oleh
manusia untuk
menjadi cerdas.
macam2 kecerdasan
jamak
1. Kecerdasan verbal/
linguistik
Kecerdasan verbal/
linguistik adalah
bagian dari kecedasan
jamak berkaitan
dengan kepekaan
terhadap bunyi,
struktur, makna dan
fungsi kata serta
bahasa yang muncul
melalui kegiatan
bercakap-cakap,
berdiskusi dan
membaca.
2. Kecerdasan logika
matematika
Kecerdasan logika
matematika adalah
bagian dari
kecerdasan jamak
berkaitan dengan
kepekaan dalam
mencari dan
menemukan pola
yang digunakan untuk
melakukan kalkuasi
hitung dan berpikir
abstrak serta berpikir
logis dan berpikir
ilmiah.
3. Kecerdasan
Intrapersonal
Kecerdasan jamak
yang berkaitan
dengan kepekaan
dalam melakukan
instrospeksi terhadap
diri sendiri dan
membandingkannya
dengan kelemahan
dan kekuatan orang
lain.
4. Kecedasan
Interpersonal
Kecerdasan jamak
yang berkaitan
dengan kepekaan
dalam membedakan
dan merespon
perilaku yang
ditampilkan orang
lain.
5. Kecerdasan
naturalis
Kecerdasan naturalis
adalah bagian dari
kecerdasan jamak
yang berkaitan
dengan kepekaan
dalam mengapresiasi
alam dan lingkungan
sekitar.
6. Kecerdasan
kinestetik dan
gerakan tubuh
( bodily – kinesthetic).
Kecerdasan kinestetik
adalah bagian dari
kecerdasan jamak
yang berkaitan
dengan kepekaan dan
keterampilan dalam
mengontrol koordinasi
gerakan tubuh
melalui gerakan
motorik kasar dan
halus, seperti
menggunakan alat-
alat secara terampil,
melompat, berlari,
berhenti secara tiba-
tiba dengan terampil
dalam rangka
melakukan gerakan
senam atau gerakan
menari, silat, dll. S
7. Kecerdasan Musik-
Irama
Kecerdasan musik
irama adalah bagian
dari kecerdasan
jamak yang berkaitan
dengan kepekaan
dalam mendengarkan
suara, musik, dan
suara lainnya. .
8. Kecerdasan Visual-
Spatial
Kecerdasan visual-
spatial adalah bagian
dari kecerdasan
jamak yang berkaitan
dengan kepekaan
dalam memadukan
kegiatan persepsi
visual (mata) maupun
pikiran serta
kemampuan
mentransformasikan
persepsi visual spatial
seperti yang
dilakukan dalam
kegiatan melukis,
mendesain pola,
merancang bangunan,
dll.

remaja

Kesehatan
Mental Remaja
oleh : nelimarhayati
Pengarang : Nelly
Marhayati, M.Si
(54 Tinjauan) Kunjungan : 4926 kata:900 Comments : 0
Dalam psikologi
perkembangan
remaja dikenal
sedang dalam fase
pencarian jati diri
yang penuh dengan
kesukaran dan
persoalan. Fase
perkembangan
remaja ini
berlangsung cukup
lama kurang lebih 11
tahun, mulai usia
11-19 tahun pada
wanita dan 12-20
tahun pada pria. Fase
perkebangan remaja
ini dikatakan fase
pencarian jati diri
yang penuh dengan
kesukaran dan
persoalan adalah
karena dalam fase ini
remaja sedang berada
di antara dua
persimpangan antara
dunia anak-anak dan
dunia orang-orang
dewasa.
Kesulitan dan
persoalan yang
muncul pada fase
remaja ini bukan
hanya muncul pada
diri remaja itu sendiri
melainkan juga pada
orangtua, guru dan
masyarakat. Dimana
dapat kita lihat
seringkali terjadi
pertentangan antara
remaja dengan
orangtua, remaja
dengan guru bahkan
dikalangan remaja itu
sendiri.
Mengapa hal ini
bisa terjadi? Secara
singkat dapat
dijelaskan bahwa
keberadaan remaja
yang ada di antara
dua persimpangan
fase
perkembanganlah
(fase interim) yang
membuat fase remaja
penuh dengan
kesukaran dan
persoalan. Dapat
dipastikan bahwa
seseorang yang
sedang dalam
keadaan transisi atau
peralihan dari suatu
keadaan ke keadaan
yang lain seringkali
mengalami gejolak
dan goncangan yang
terkadang dapat
berakibat buruk
bahkan fatal
(menyebabkan
kematian).(Syah,
2001)
Namun, pada
dasarnya semua
kesukaran dan
persoalan yang
muncul pada fase
perkembangan
remaja ini dapat
diminimalisir bahkan
dihilangkan, jika
orangtua, guru dan
masyarakat mampu
memahami
perkembangan jiwa,
perkembangan
kesehatan mental
remaja dan mampu
meningkatkan
kepercayaan diri
remaja.Persoalan
paling signifikan yang
sering dihadapi
remaja sehari-hari
sehingga
menyulitkannya untuk
beradaptasi dengan
lingkungannya adalah
hubungan remaja
dengan orang yang
lebih dewasa,
terutama sang ayah,
dan perjuangannya
secara bertahap
untuk bisa
membebaskan diri
dari dominasi mereka
pada level orang-
orang dewasa.
Seringkali orangtua
mencampuri urusan-
urusan pribadi
anaknya yang sudah
remaja dengan
mengajukan
pertanyaan-
pertanyaan sebagai
berikut, “Dimana
kamu semalam?”,
“Dengan siapa kamu
pergi?”, “Apa yang
kamu tonton?” dan
lain sebagainya.
Pertanyaan-
pertanyaan tersebut
pada dasarnya
ditujukan oleh
orangtua adalah
karena kepedulian
orangtua terhadap
keberadaan dan
keselamatan anak
remajanya. Namun
ditelinga dan
dipersepsi anak
pertanyaan-
pertanyaan tersebut
seperti introgasi
seorang polisi
terhadap seorang
criminal yang berhasil
ditangkap.
Menurut
pandangan para ahli
psikologi keluarga
atau orangtua yang
baik adalah orangtua
yang mampu
memperkenalkan
kebutuhan remaja
berikut tantangan-
tantangannya untuk
bisa bebas kemudian
membantu dan
mensupportnya
secara maksimal dan
memberikan
kesempatan serta
sarana-sarana yang
mengarah kepada
kebebasan. Selain itu
remaja juga diberi
dorongan untuk
memikul tanggung
jawab, mengambil
keputusan, dan
merencanakan masa
depannya. Namun,
proses pemahaman ini
tidak terjadi secara
cepat, perlu
kesabaran dan
ketulusan orangtua di
dalam membimbing
dan mengarahkan
anak remajanya.
Selanjutnya para
pakar psikologi
menyarankan strategi
yang paling bagus dan
cocok dengan remaja
adalah strategi
menghormati
kecenderungannya
untuk bebas merdeka
tanpa mengabaikan
perhatian orangtua
kepada mereka.
Strategi ini selain
dapat menciptakan
iklim kepercayaan
antara orangtua dan
anak, dapat juga
mengajarkan adaptasi
atau penyesuaian diri
yang sehat pada
remaja. Hal ini sangat
membantu
perkembangan,
kematangan, dan
keseimbangan jiwa
remaja. (Mahfuzh,
2001)
Pertumbuhan dan
perkembangan yang
terjadi selama masa
remaja tidak selalu
dapat tertangani
secara baik. Pada fase
ini di satu sisi remaja
masih menunjukkan
sifat kekanak-
kanakan, namun di
sisi lain dituntut untuk
bersikap dewasa oleh
lingkungannya.
Sejalan dengan
perkembangan
sosialnya, mereka
lebih konformitas
pada kelompoknya
dan mulai melepaskan
diri dari ikatan dan
kebergantungan
kepada orangtuanya,
dan sering
menunjukkan sikap
menantang otoritas
orangtuanya.
Remaja yang salah
penyesuaian dirinya
terkadang melakukan
tindakan-tindakan
yang tidak realistis,
bahkan cenderung
melarikan diri dari
tanggung jawabnya.
Perilaku mengalihkan
masalah yang
dihadapi dengan
mengkonsumsi
minuman beralkohol
banyak dilakukan oleh
kelompok remaja,
bahkan sampai
mencapai tingkat
ketergantungan
penyalahgunaan obat
terlarang dan zat
adiktif.
Berkaitan dengan
pelepasan tangung
jawab, dikalangan
remaja juga sering
dijumpai banyak
usaha untuk bunuh
diri. di Negara-negara
maju, seperti
Amerika, Jepang,
Selandia Baru,
masalah bunuh diri
dikalangan remaja
berada pada tingkat
yang memprihatinkan.
Sedangkan dinegara
berkembang seperti
Indonesia, perilaku
tidak sehat remaja
yang beresiko
kecelakaan juga
banyak dilakukan
remaja, seperti
berkendaraan secara
ugal-ugalan. Hal lain
yang menjadi
persoalan penting
dikalangan remaja
disemua negara
adalah, meningkatnya
angka delinkuensi.
Perilaku tersebut
misalnya keterlibatan
remaja dalam
perkelahian antar
sesame, kabur dari
rumah, melakukan
tindakan kekerasan,
dan berbagai
pelanggaran hukum,
adalah umum
dilakukan oleh
remaja.
Kesehatan mental
masyarakat pada
dasarnya tercermin
dari segi-segi
kesehatan mental
remaja. Makin tinggi
angka delikuensi,
bunuh diri remaja,
penggunaan obat dan
ketergantungan pada
zat adiktif, berarti
kesehatan mental
masyarakat makin
rendah.Usaha
bimbingan kesehatan
mental sangat penting
dilakukan dikalangan
remaja, dalam bentuk
program-program
khusus, seperti
peningkatan
kesadaran terhadap
kesehatan mental,
penyuluhan tentang
kehidupan berumah
tangga, hidup secara
sehat dan pencegahan
penggunaan zat-zat
adiktif, serta
penyuluhan tentang
pencegahan terhadap
HIV/AIDS, dan
sejenisnya.
Program kesehatan
mental remaja ini
dapat dilakukan
melalui institusi-
institusi formal
remaja, seperti
sekolah, dan dapat
pula melalui
intervensi-intervensi
lain seperti program-
program
kemasyarakatan, atau
program-program
yang dibuat khusus
untuk kelompok
remaja.

Sunday, November 15, 2009

diabetes militus

Diabetes mellitus
(DM) (dari kata
Yunani διαβαίνειν,
diabaínein, "tembus"
atau "pancuran air",
dan kata Latin
mellitus, "rasa
manis") yang umum
dikenal sebagai
kencing manis adalah
penyakit yang ditandai
dengan hiperglisemia
(peningkatan kadar
gula darah) yang
terus-menerus dan
bervariasi, terutama
setelah makan.
Sumber lain
menyebutkan bahwa
yang dimaksud
dengan diabetes
mellitus adalah
keadaan
hiperglikemia kronik
disertai berbagai
kelainan metabolik
akibat gangguan
hormonal, yang
menimbulkan
berbagai komplikasi
kronik pada mata,
ginjal, dan pembuluh
darah, disertai lesi
pada membran basalis
dalam pemeriksaan
dengan mikroskop
elektron.[2]
Semua jenis diabetes
mellitus memiliki
gejala yang mirip dan
komplikasi pada
tingkat lanjut.
Hiperglisemia sendiri
dapat menyebabkan
dehidrasi dan
ketoasidosis.
Komplikasi jangka
lama termasuk
penyakit
kardiovaskular (risiko
ganda), kegagalan
kronis ginjal
(penyebab utama
dialisis), kerusakan
retina yang dapat
menyebabkan
kebutaan, serta
kerusakan saraf yang
dapat menyebabkan
impotensi dan
gangren dengan risiko
amputasi. Komplikasi
yang lebih serius lebih
umum bila kontrol
kadar gula darah
buruk.Penyebab
Pembentukan
diabetes yang utama
adalah karena
kurangnya produksi
insulin (diabetes
melitus jenis 1, yang
pertama dikenal),
atau kurang
sensitifnya jaringan
tubuh terhadap insulin
(diabetes melitus jenis
2, bentuk yang lebih
umum). Selain itu,
terdapat jenis
diabetes melitus yang
juga disebabkan oleh
resistansi insulin yang
terjadi pada wanita
hamil. Jenis 1
membutuhkan
penyuntikan insulin,
sedangkan jenis 2
diatasi dengan
pengobatan oral dan
hanya membutuhkan
insulin apabila
obatnya tidak efektif.
Diabetes melitus pada
kehamilan umumnya
sembuh dengan
sendirinya setelah
persalinan.
Pemahaman dan
partisipasi pasien
sangat penting karena
tingkat glukosa darah
berubah terus, karena
kesuksesan menjaga
gula darah dalam
batasan normal dapat
mencegah terjadinya
komplikasi diabetes.
Faktor lainnya yang
dapat mengurangi
komplikasi adalah:
berhenti merokok,
mengoptimalkan
kadar kolesterol,
menjaga berat tubuh
yang stabil,
mengontrol tekanan
darah tinggi, dan
melakukan olah raga
teratur.
Jenis
Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO)
mengakui tiga bentuk
diabetes mellitus,
yaitu tipe 1, tipe 2,
dan diabetes
gestasional (terjadi
selama kehamilan)
[3].
Diabetes mellitus tipe
1
Diabetes mellitus tipe
1 — dulu disebut
insulin-dependent
diabetes (IDDM,
"diabetes yang
bergantung pada
insulin"), atau
diabetes anak-anak,
dicirikan dengan
hilangnya sel beta
penghasil insulin pada
pulau-pulau
Langerhans pankreas
sehingga terjadi
kekurangan insulin
pada tubuh. Diabetes
tipe ini dapat diderita
oleh anak-anak
maupun orang
dewasa.
Sampai saat ini
diabetes tipe 1 tidak
dapat dicegah. Diet
dan olah raga tidak
bisa menyembuhkan
ataupun mencegah
diabetes tipe 1.
Kebanyakan penderita
diabetes tipe 1
memiliki kesehatan
dan berat badan yang
baik saat penyakit ini
mulai dideritanya.
Selain itu, sensitivitas
maupun respons
tubuh terhadap insulin
umumnya normal
pada penderita
diabetes tipe ini,
terutama pada tahap
awal.
Penyebab terbanyak
dari kehilangan sel
beta pada diabetes
tipe 1 adalah
kesalahan reaksi
autoimunitas yang
menghancurkan sel
beta pankreas. Reaksi
autoimunitas tersebut
dapat dipicu oleh
adanya infeksi pada
tubuh.
Saat ini, diabetes tipe
1 hanya dapat diobati
dengan menggunakan
insulin, dengan
pengawasan yang
teliti terhadap tingkat
glukosa darah melalui
alat monitor
pengujian darah.
Pengobatan dasar
diabetes tipe 1,
bahkan untuk tahap
paling awal sekalipun,
adalah penggantian
insulin. Tanpa insulin,
ketosis dan diabetic
ketoacidosis bisa
menyebabkan koma
bahkan bisa
mengakibatkan
kematian. Penekanan
juga diberikan pada
penyesuaian gaya
hidup (diet dan
olahraga). Terlepas
dari pemberian injeksi
pada umumnya, juga
dimungkinkan
pemberian insulin
melalui pump, yang
memungkinkan untuk
pemberian masukan
insulin 24 jam sehari
pada tingkat dosis
yang telah ditentukan,
juga dimungkinkan
pemberian dosis (a
bolus) dari insulin
yang dibutuhkan pada
saat makan. Serta
dimungkinkan juga
untuk pemberian
masukan insulin
melalui "inhaled
powder".
Perawatan diabetes
tipe 1 harus berlanjut
terus. Perawatan
tidak akan
mempengaruhi
aktivitas-aktivitas
normal apabila
kesadaran yang
cukup, perawatan
yang tepat, dan
kedisiplinan dalam
pemeriksaan dan
pengobatan
dijalankan. Tingkat
Glukosa rata-rata
untuk pasien diabetes
tipe 1 harus sedekat
mungkin ke angka
normal (80-120 mg/dl,
4-6 mmol/l). Beberapa
dokter menyarankan
sampai ke 140-150 mg/
dl (7-7.5 mmol/l)
untuk mereka yang
bermasalah dengan
angka yang lebih
rendah. seperti
"frequent
hypoglycemic events".
Angka di atas 200 mg/
dl (10 mmol/l)
seringkali diikuti
dengan rasa tidak
nyaman dan buang air
kecil yang terlalu
sering sehingga
menyebabkan
dehidrasi. Angka di
atas 300 mg/dl (15
mmol/l) biasanya
membutuhkan
perawatan secepatnya
dan dapat mengarah
ke ketoasidosis.
Tingkat glukosa darah
yang rendah, yang
disebut hypoglycemia,
dapat menyebabkan
kejang atau seringnya
kehilangan
kesadaran.
Diabetes mellitus tipe
2
Diabetes mellitus tipe
2 — dulu disebut non-
insulin-dependent
diabetes mellitus
(NIDDM, "diabetes
yang tidak bergantung
pada insulin") —
terjadi karena
kombinasi dari
"kecacatan dalam
produksi insulin" dan
"resistensi terhadap
insulin" atau
"berkurangnya
sensitifitas terhadap
insulin"(adanya defek
respon jaringan
terhadap insulin)yang
melibatkan reseptor
insulin di membran
sel. Pada tahap awal
abnormalitas yang
paling utama adalah
berkurangnya
sensitifitas terhadap
insulin, yang ditandai
dengan meningkatnya
kadar insulin di dalam
darah. Pada tahap ini,
hiperglikemia dapat
diatas dengan
berbagai cara dan
Obat Anti Diabetes
yang dapat
meningkatkan
sensitifitas terhadap
insulin atau
mengurangi produksi
glukosa dari hepar,
namun semakin parah
penyakit, sekresi
insulinpun semakin
berkurang, dan terapi
dengan insulin kadang
dibutuhkan. Ada
beberapa teori yang
menyebutkan
penyebab pasti dan
mekanisme terjadinya
resistensi ini, namun
obesitas sentral (fat
concentrated around
the waist in relation
to abdominal organs,
not it seems,
subcutaneous fat)
diketahui sebagai
faktor predisposisi
terjadinya resistensi
terhadap insulin,
mungkin dalam kaitan
dengan pengeluaran
dari adipokines ( nya
suatu kelompok
hormon) itu merusak
toleransi glukosa.
abdominal gemuk
Adalah terutama
aktip hormonally.
Kegendutan
ditemukan di kira-kira
90% dari pasien dunia
dikembangkan
mendiagnose dengan
jenis 2 kencing manis.
Lain faktor boleh
meliputi mengeram
dan sejarah keluarga,
walaupun di dekade
yang ter]akhir [itu]
telah terus meningkat
mulai untuk
mempengaruhi anak
remaja dan anak-
anak.
Diabetes tipe 2 boleh
pergi tak ketahuan
bertahun-tahun dalam
suatu pasien
[sebelum/di depan]
hasil diagnosa
[sebagai/ketika]
gejala yang kelihatan
adalah secara khas
lembut atau yang
tidak ada,, tanpa
ketoacidotic, dan
dapat sporadis..
Bagaimanapun,
kesulitan yang
menjengkelkan dapat
diakibatkan oleh jenis
tak ketahuan 2
kencing manis,
termasuk kegagalan
yang berkenaan
dengan ginjal ,
penyakit yang
vaskuler ( termasuk
penyakit nadi/jalan
utama serangan
jantung ), visi
merusakkan, dan lain
lain
Diabetes Tipe 2
biasanya, awalnya,
diobati dengan cara
perubahan aktivitas
fisik (biasanya
peningkatan), diet
(umumnya
pengurangan asupan
karbohidrat), dan
lewat pengurangan
berat badan. Ini dapat
memugar kembali
kepekaan hormon
insulin, bahkan ketika
kerugian berat/beban
adalah rendah hati,,
sebagai contoh, di
sekitar 5 kg ( 10
sampai 15 lb), paling
terutama ketika itu
ada di deposito
abdominal yang
gemuk. Langkah yang
berikutnya, jika
perlu,, perawatan
dengan lisan [[
antidiabetic drugs.
[Sebagai/Ketika/
Sebab] produksi
hormon insulin adalah
pengobatan pada
awalnya tak
terhalang, lisan
( sering yang
digunakan di
kombinasi) kaleng
tetap digunakan untuk
meningkatkan
produksi hormon
insulin ( e.g.,
sulfonylureas) dan
mengatur pelepasan/
release yang tidak
sesuai tentang
glukosa oleh hati
( dan menipis
pembalasan hormon
insulin sampai taraf
tertentu ( e.g.,
metformin), dan pada
hakekatnya menipis
pembalasan hormon
insulin ( e.g.,
thiazolidinediones).
Jika ini gagal, ilmu
pengobatan hormon
insulin akan jadilah
diperlukan untuk
memelihara normal
atau dekat tingkatan
glukosa yang normal.
Suatu cara hidup yang
tertib tentang cek
glukosa darah
direkomendasikan
dalam banyak kasus,
paling terutama sekali
dan perlu ketika
mengambil
kebanyakan
pengobatan.
Gestational Diabetes
Mellitus
Gestational diabetes
mellitus (GDM)
melibatkan kombinasi
dari kemampuan
reaksi dan
pengeluaran hormon
insulin yang tidak
cukup, menirukan
jenis 2 kencing manis
di beberapa
pengakuan. Terjadi
selama kehamilan dan
dapat sembuh setelah
melahirkan. GDM
mungkin dapat
merusak kesehatan
janin atau ibu, dan
sekitar 20 –50% dari
wanita penderita GDM
bertahan hidup.
GDM terjadi di sekitar
2 –5% dari semua
kehamilan. GDM
bersifat temporer dan
secara penuh bisa
perlakukan tetapi,
tidak diperlakukan,
boleh menyebabkan
permasalahan dengan
kehamilan, termasuk
macrosomia
(kelahiran yang tinggi
menimbang), janin
mengalami kecacatan
dan menderita
penyakit jantung sejak
lahir. Penderita
memerlukan
pengawasan secara
medis sepanjang
kehamilan.
Resiko Fetal/Neonatal
yang dihubungkan
dengan GDM meliputi
keanehan sejak lahir
seperti berhubungan
dengan jantung,
sistem nerves yang
pusat, dan [sebagai/
ketika/sebab] bentuk
cacad otot. Yang
ditingkatkan hormon
insulin hal-hal janin
boleh menghalangi
sindrom kesusahan
dan produksi
surfactant penyebab
hal-hal janin yang
berhubung
pernapasan.
Hyperbilirubinemia
boleh diakibatkan
oleh pembinasaan sel
darah yang merah. Di
kasus yang
menjengkelkan,
perinatal kematian
boleh terjadi, paling
umum sebagai hasil
kelimpahan placental
yang lemah/miskin
dalam kaitan dengan
perusakan/pelemahan
yang vaskuler.
Induksi/Pelantikan
mungkin ditandai
dengan dikurangi
placental fungsi.
Bagian Cesarean
mungkin dilakukan
jika ditandai
kesusahan hal-hal
janin atau suatu
ditingkatkan risiko
dari luka-luka/
kerugian dihubungkan
dengan macrosomia,
seperti bahu dystocia.
Gejala
Tiga serangkai yang
klasik tentang gejala
kencing manis adalah
polyuria (banyak
kencing), polydipsia
(banyak minum) dan
polyphagia (banyak
makan). Gejala ini
boleh kembang;kan
sungguh puasa diset
dicetak 1, terutama
sekali di anak-anak
( bulan atau minggu)
tetapi mungkin sulit
dipisahkan atau
dengan sepenuhnya
absen & & mdash;
seperti halnya
mengembang;kan
jauh lebih pelan-pelan
& mdash; diset
dicetak 2. Diset
dicetak 1 [di/ke] sana
boleh juga jadilah
kerugian berat/beban
( di samping normal
atau yang
ditingkatkan makan)
dan kelelahan yang
tidak dapat diperkecil
lagi. Gejala ini boleh
juga menjelma diset
dicetak 2 kencing
manis di pasien
kencing manis siapa
adalah dengan kurang
baik dikendalikan.
Gejala awalnya
berhubungan dengan
efek langsung dari
kadar gula darah
yang tinggi. Jika kadar
gula darah sampai
diatas 160-180 mg/dL,
maka glukosa akan
sampai ke urine. Jika
kadarnya lebih tinggi
lagi, ginjal akan
membuang air
tambahan untuk
mengencerkan
sejumlah besar
glukosa yang hilang.
Karena ginjal
menghasilkan air
kemih dalam jumlah
yang berlebihan,
maka penderita sering
berkemih dalam
jumlah yang banyak
(poliuri).
Akibat poliuri maka
penderita merasakan
haus yang berlebihan
sehingga banyak
minum (polidipsi).
Sejumlah besar kalori
hilang ke dalam air
kemih, penderita
mengalami penurunan
berat badan. Untuk
mengkompensasikan
hal ini penderita
seringkali merasakan
lapar yang luar biasa
sehingga banyak
makan (polifagi).
Gejala lainnya adalah
pandangan kabur,
pusing, mual dan
berkurangnya
ketahanan selama
melakukan olah raga.
Penderita diabetes
yang kurang
terkontrol lebih peka
terhadap infeksi.
Karena kekurangan
insulin yang berat,
maka sebelum
menjalani pengobatan
penderita diabetes
tipe I hampir selalu
mengalami penurunan
berat badan. Sebagian
besar penderita
diabetes tipe II tidak
mengalami penurunan
berat badan.
Pada penderita
diabetes tipe I,
gejalanya timbul
secara tiba-tiba dan
bisa berkembang
dengan cepat ke
dalam suatu keadaan
yang disebut dengan
ketoasidosis
diabetikum. Kadar
gula di dalam darah
adalah tinggi tetapi
karena sebagian
besar sel tidak dapat
menggunakan gula
tanpa insulin, maka
sel-sel ini mengambil
energi dari sumber
yang lain. Sel lemak
dipecah dan
menghasilkan keton,
yang merupakan
senyawa kimia
beracun yang bisa
menyebabkan darah
menjadi asam
(ketoasidosis). Gejala
awal dari ketoasidosis
diabetikum adalah
rasa haus dan sering
kencing, mual,
muntah, lelah dan
nyeri perut (terutama
pada anak-anak).
Pernafasan menjadi
dalam dan cepat
karena tubuh
berusaha untuk
memperbaiki
keasaman darah. Bau
nafas penderita
tercium seperti bau
aseton. Tanpa
pengobatan,
ketoasidosis
diabetikum bisa
berkembang menjadi
koma, kadang dalam
waktu hanya
beberapa jam.
Bahkan setelah mulai
menjalani terapi
insulin, penderita
diabetes tipe I bisa
mengalami
ketoasidosis jika
mereka melewatkan
satu kali penyuntikan
insulin atau
mengalami stres
akibat infeksi,
kecelakaan atau
penyakit yang serius.
Penderita diabetes
tipe II bisa tidak
menunjukkan gejala
selama beberapa
tahun. Jika
kekurangan insulin
semakin parah, maka
timbullah gejala yang
berupa sering kencing
dan haus. Jarang
terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah
sangat tinggi (sampai
lebih dari 1.000 mg/
dL, biasanya terjadi
akibat stres-misalnya
infeksi atau obat-
obatan), maka
penderita akan
mengalami dehidrasi
berat, yang bisa
menyebabkan
kebingungan mental,
pusing, kejang dan
suatu keadaan yang
disebut koma
hiperglikemik-
hiperosmolar non-
ketotik.
Diabetes dan
puasa
Pasien yang cukup
terkendali dengan
pengaturan makan
saja tidak mengalami
kesulitan kalau
berpuasa. Pasien yang
cukup terkendali
dengan obat dosis
tunggal juga tidak
mengalami kesulitan
untuk berpuasa. Obat
diberikan pada saat
berbuka puasa. Untuk
yang terkendali
dengan obat
hipoglikemik oral
(OHO) dosis tinggi,
obat diberikan dengan
dosis sebelum
berbuka lebih besar
daripada dosis sahur.
Untuk yang memakai
insulin, dipakai insulin
jangka menengah
yang diberikan saat
berbuka saja.
Sedangkan pasien
yang harus
menggunakan insulin
(DMTI) dosis ganda,
dianjurkan untuk tidak
berpuasa dalam bulan
Ramadhan.[2]

Saturday, November 14, 2009

Stres Pada Anak

Stres pada anak:
gejala, penyebab,
dampak dan
penanggulannya
Dalam pandangan
global, dunia anak
adalah dunia impian
yang hanyalah
dipenuhi dengan
berbagai kesenangan,
kebahagiaan dan
ketenangan. Namun
tahukah kita bahwa
anak-anakpun dapat
mengalami stres?
Kenyataan
membuktikan bahwa
selain hal-hal yang
menyenangkan,
kehidupan anak-anak
sekarang ini juga
telah dipenuhi oleh
pelbagai beban
persoalan dan
tekanan sama seperti
yang dialami oleh
orang dewasa pada
umumnya.
Permasalahan-
permasalahan yang
dialami anak bisa
berasal dari
lingkungan maupun
dari dalam diri
mereka sendiri dan
apabila tidak teratasi
atau terkontrol
dengan baik akan
berujung pada
perubahan-perubahan
fisik dan mental yang
dapat membahayakan
diri mereka sendiri.
Kondisi-kondisi seperti
inilah yang dikenal
sebagai stres.
Dalam istilah medis,
stres didefinisikan
sebagai suatu
rangsangan fisik dan
psikologi yang
menghasilkan reaksi
mental dan fisiologi
yang dapat
menimbulkan
berbagai macam
penyakit. Sedangkan
secara teknis, stres
merupakan
pengrusakan
keseimbangan tubuh
(homeostasis), yang
dicetus oleh
pengalaman-
pengalaman yang
tidak menyenangkan,
baik yang nyata
maupun yang tidak
nyata. Untuk lebih
mudah memahami
stres yang terjadi
pada anak maka
sangatlah penting
bagi orang dewasa
untuk mengetahui dan
memahami berbagai
hal yang berkaitan
dengan stres pada
anak seperti tanda-
tanda atau gejala,
faktor penyebab,
dampak, serta
bagaimana strategi
untuk mencegah dan
menanggulangi stres
pada anak.
Tanda dan gejala
stres pada anak.
Anak-anak yang
sedang mengalami
stress mungkin tidak
tahu bahwa mereka
sedang berada dalam
kondisi stres, sehingga
dibutuhkan peran
orang tua untuk
mengenali tanda-
tanda stress pada
anak. Pengenalan
tanda-tanda stress
pada anak secara dini
oleh orang tua sangat
membantu anak-anak
untuk coping dengan
situasi yang mereka
alami. Namun,
berbeda dengan
orang dewasa, gejala
stres pada anak
sangatlah tidak
mudah untuk dikenali.
Secara umum gejala
atau tanda-tanda
stres pada anak dapat
dikelompokkan dalam
beberapa katagori:
a) gejala fisik: seperti
ngompol, sulit tidur,
menurunnya napsu
makan, gagap, sakit
perut, sakit kepala,
dan mimpi buruk,
b) gejala emosi:
ditandai dengan rasa
bosan, tidak adanya
keinginan untuk
berpartisipasi pada
aktivistas di rumah
maupun di sekolah,
takut, marah,
menangis, kebiasaan
berbohong, mengasari
teman, atau
memberontak
terhadap aturan-
aturan, bereaksi
secara berlebih-
lebihan terhadap
masalah-masalah
yang kecil, dan
perubahan drastis
dalam penampilan
akademik;
c) gejala kognitif:
ditunjukkan melalui
ketidakmampuan
berkonsentrasi atau
menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan
sekolah, dan suka
menyendiri dalam
waktu yang lama;
d) gejala tingkah laku:
ditunjukkan dengan
ketidakmampuan
mengontrol emosi,
menunjukkan sikap
brutal dan keras
kepala, dan
perubahan tingkah
laku jangka pendek
seperti temperamen
yang berubah-ubah
dan perubahan dalam
pola tidur, munculnya
kebiasaan-kebiasaan
baru seperti mengisap
jempol, memutar-
mutar rambutnya,
atau mencubit-cubit
hidung।
Penyebab stres pada
anak. Setelah
mengetahui berbagai
tanda atau gejala
stres pada anak, tentu
kita ingin mengetahui
secara gamblang apa
faktor penyebab stres
pada anak. Pepatah
mengatakan
bahwa : “the sooner to
know the causes, the
better to cure the
effects”. Pepatah ini
merupakan motivasi
yang sangat baik bagi
orang tua untuk
mengetahui faktor-
faktor penyebab
stress pada anak,
sehingga mereka
mampu mengambil
tindakan pertolongan
bagi anak-anak
mereka agar coping
dengan stress yang
dihadapi serta mampu
mencegah atau
menghindari
terjadinya stress pada
anak.
Menurut Prof. Marian
Marion dalam
bukunya Guidance for
young children, ada
dua faktor utama
penyebab stress
(stressors) pada anak
yakni faktor internal
dan faktor eksternal।
Yang termasuk dalam
faktor internal antara
lain rasa lapar, rasa
sakit, sensitivitas
terhadap bunyi/
keributan, perubahan
suhu, dan kondisi
keramaian
(kepadatan manusia).
Sedangkan faktor
eksternal meliputi
perpisahan atau
perceraian dalam
keluarga, perubahan
dalam komposisi
keluarga, menghadapi
pertengkaran dan
konflik, menghadapi
kejahatan, mengalami
tindakan kekerasan
dari sesama teman
(bullying), kehilangan
sesuatu yang
berharga misalnya
hewan kesayangan,
diperhadapkan
dengan tugas yang
harus diselesaikan
secara bertubi-tubi,
terburu-buru
(hurrying), dan
kehidupan sehari-hari
yang tidak teratur
dengan baik. Dari
semua faktor
penyebab stress yang
sudah disebutkan,
menurut spesialis
pengembangan
manusia dari
University of Illinois
Cooperative Extension
(Christine M. Todd),
stress fisik (seperti
rasa lapar,
mengantuk atau
mendapat peringatan
akibat tingkah laku
yang kurang baik)
merupakan penyebab
utama masalah
tingkah laku pada
anak.
Dampak stres pada
anak. Stress dapat
berdampak positif
maupun negative dan
dipengaruhi oleh
umur dan tingkatan
stres. Stress yang
berdampak positif
(misalnya mengikuti
kejuaraan tertentu
dan belajar
mengendarai sepeda)
merupakan bagian
yang normal dari
kehidupan anak setiap
hari. Berkaitan
dengan umur,
semakin muda anak,
semakin besar
dampak yang
ditimbulkan dari hal-
hal baru, dan semakin
kuat serta potensial
pula stress negatif
terjadi. Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa
dampak negatif dari
stress lebih banyak
terjadi pada anak-
anak yang berumur di
bawah 10 tahun, yang
memilki temperamen
menurun seperti
“sulit” atau “slow but
warm-up”, dan yang
dilahirkan prematur.
Stress yang terjadi
secara
berkepanjangan
(chronic stress)
sangat
membahayakan bagi
kesehatan dan
perkembangan
mental anak, seperti
menurunkan
kekebalan tubuh
(immune system)
untuk melawan
penyakit dan infeksi,
merusak system
pencernaan,
menghambat
pertumbuhan,
merusak emosi,
perkembangan fisik
dan sel-sel otak anak.
Pencegahan dan
penanggulangan
stress pada anak.
Untuk menolong
anak-anak yang
sedang menghadapi
stress diperlukan
strategi pengendalian
yang tepat dari orang
dewasa. Strategi
pengendalian ini
haruslah didasarkan
pada tingkat
perkembangan anak
karena hal ini sangat
berkaitan dengan
kemampuan anak
untuk mengerti dan
memahami keadaan
yang sedang mereka
alami. Para pakar
anak menyebutkan
bahwa ada banyak
cara yang dapat
dilakukan untuk
mencegah serta
mengurangi stres
pada anak seperti:
1. Istirahat yang
cukup dan nutrisi yang
baik dapat menolong
anak-anak dalam
mengatasi stress.
2. Menyediakan waktu
yang berkualitas
dengan anak setiap
hari. Biarkan anak
mengutarakan
masalah yang sedang
dihadapi dan
menuliskannya. Pada
kesempatan ini anak
diajak bermain
bersama-sama atau
berbicara dari hati ke
hati tentang bebagai
masalah yang
dihadapi oleh mereka
serta mencari jalan
keluar bersama.
Ajarkan anak untuk
mentransfer strategi
pengendalian stress
kepada situasi yang
lain. Dengan demikian
mereka akan merasa
bahwa mereka sangat
berarti bagi orang tua
mereka.
3. Sebelum anak
menghadapi hal-hal
baru dalam keluarga
yang dapat
menyebabkan stress
(misalnya kelahiran
anggota keluarga
baru), maka perlu
bantuan orang tua
mempersiapkan anak
dengan cara untuk
memberikan
pemahaman tentang
hal-hal baru yang
akan terjadi dalam
keluarga. Hal ini akan
menolong mengurangi
beban stress anak.
Namun, persiapan
yang berlebih-lebihan
juga dibuktikan dapat
menyebabkan lebih
banyak stress. Orang
tua dapat menilai
apakah pemahaman
yang diberikan sudah
cukup atau belum
dengan cara
memberikan
kesempatan kepada
anak untuk bertanya
jika ia ingin
mengetahui lebih
banyak.
4. Menyediakan
lingkungan yang
mendukung bagi anak
dimana mereka dapat
bermain atau
mengekpresikan
bakat seni mereka.
5. Menolong anak-
anak untuk mampu
mengidentifikasi
berbagai strategi
penanggulangan stres
(misalnya meminta
pertolongan jika ada
seseorang yang
menggoda/
mengganggu,
mengatakan kepada
mereka kalau kamu
tidak menyukainya
atau meninggalkan
orang yang
mengganggu)
Menolong anak-anak
untuk mengenal,
menamai, menerima
dan mengekspresikan
perasaan mereka
secara tepat.
6. Mengajarkan
kepada anak-anak
teknik relaksasi
(beristirahat). Berikan
saran-saran seperti:
“tarik napas yang
dalam”, “berhitung
mendur”, “tarik dan
regangkan otot-
ototmu”, “bermain
dengan adonan tanah
liat”, “berdansa” atau
“membayangkan
tempat-tempat yang
disukai untuk
dikunjungi dan
menghayal
mengunjungi tempat-
tempat tersebut”).
7. Latihan
menggunakan
berbicara pada diri
sendiri (self-talk
skills) seperti “saya
akan mencoba”, saya
piker saya mampu
melakukannya”, ini
akan menolong anak
dalam mengendalikan
stress mereka.
Beberapastrategi
dasar meliputi
penerapan strategi
disiplin positif,
mengikuti rutinitas
secara konsisten, dan
meningkatkan kerja
sama.
8. Jangan membebani
anak dengan masalah
yang sedang dihadapi
orang tua. Tetapi
katakanlah kepada
mereka tujuan hidup
keluarga dan
diskusikan kesulitan-
kesulitan yang
dihadapi dengan sikap
yang menyenangkan.
9. Berilah pujian pada
anak ketika mereka
melakukan hal-hal
yang baik dan jangan
lupa untuk
memberikan pelukan
dan ciuman.
10. Gunakanlah humor
sebagai buffer
terhadap perasaan-
perasaan dan situasi
yang kurang baik.
Anak yang
mempelajari humor
akan lebih baik untuk
menjaga segala
sesuatu dalam
persepsi.
11. Jangan
memberikan beban
yang berlebihan
kepada anak dengan
aktivitas dan
tanggung jawab diluar
sekolah. Biarkan
anak-anak untuk
belajar mengatur
waktu mereka dengan
baik. Jangan meminta
mereka untuk selalu
menjadi nomor satu
dalam segala hal.
12. Berikanlah contoh
dan teladan yang baik
kepada mereka
sehingga mereka
akan meniru tingkah
laku orang tuanya.
Tunjukkan kepada
mereka keahlian
untuk mengontrol
pengendalian diri dan
keahlian untuk
mengendalikan stress.
Dengan melihat hal ini
akan memberikan
keuntungan bagi
mereka karena
nantinya mereka akan
mampu
mengendalikan stress
mereka secara baik.
13. Carilah teman
atau para profesional
untuk menolong anda
apabila masalah yang
dihadapi terlalu berat
untuk ditangani
sendiri.
Kesimpulannya,
pengetahuan dan
pemahaman yang
benar tentang hal-hal
yang berkaitan
dengan stres pada
anak seperti tanda-
tanda atau gejala
stress, faktor
penyebab, berbagai
dampak yang
ditimbulkan dan
berbagai metode
pengandaliannya
merupakan informasi
yang sangat
bermanfaat bagi
orang tua dalam
menerapkan strategi
yang tepat untuk
mencegah dan
mengurangi stress
yang terjadi pada
anak.
Written by: Catootjie
(Penulis adalah staf
pengajar pada
Politeknik Pertanian
Negeri Kupang dan
sedang melanjutkan
pendidikan doctoral
(S3) pada IFNHH-
Massey University, di
New Zealand)

Tentang Stres

Stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit. Stres membuat tubuh untuk memproduksi hormone adrenaline yang berfungsi untuk mempertahankandiri. Stres merupakan bagian dari kehidupan manusia. Stres yang ringan berguna dan dapat memacu seseorang untuk berpikir dan berusaha lebih cepat dan keras sehingga dapat menjawab tantangan hidup sehari-hari. Stres ringan bisa merangsang dan memberikan rasa lebih bergairah dalam kehidupan yang biasanya membosankan dan rutin. Tetapi stress yang terlalu banyak dan berkelanjutan, bila tidak ditanggulangi, akan berbahaya bagi kesehatan.

Gejala-gejala

- Menjadi mudah tersinggung dan marah terhadap teman, keluarga
dan kolega.
- Bertindak secara agresif dan defensif
- Merasa selalu lelah
- Sukar konsentrasi atau menjadi pelupa.
- Palpitasi atau jantung berdebar-debar.
- Otot-otot tegang.
- Sakit kepala, perut dan diare.
- Komplikasi
- Tekanan darah tinggi dan serangan jantung.
- Sakit mental, hysteria.
- Gangguan makan seperti hilang nafsu makan atau terlalu banyak makan.
- Tidak bisa tidur (insomnia).
- Migren/kepala pusing.
- Sakit maag.
- Serangan asma yang tambah berat.
- Ruam kulit.

Penyebab
* Kejadian hidup sehari-hari baik gembira dan sedih seperti:
- Menikah/mempunyai anak.
- Mulai tempat kerja baru/pindah
rumah/emigrasi.
- Kehilangan orang yang dicintai baik karena meninggal atau cerai.
- Masalah hubungan pribadi.
* Pelajaran sekolah maupun pekerjaan yang membutuhkan jadwal waktu yang ketat, dan atau bekerja dengan atasan yang keras dan kurang pengertian.
* Tidak sehat.
* Lingkungan seperti terlalu ramai, terlalu banyak orang atau terlalu panas dalam rumah atau tempat kerja.
* Masalah keuangan seperti hutang dan pengeluaran di luar kemampuan.
* Kurang percaya diri, pemalu
* Terlalu ambisi dan bercita-cita terlalu tinggi.
* Perasaan negatif seperti rasa bersalah dan tidak tahu
cara pemecahannya,
frustasi.
* Tidak dapat
bergaul, kurang
dukungan kawan.
* Membuat keputusan masalah yang bisa merubah
jalan hidupnya atau dipaksa untuk merubah
nilai-nilai/prinsip hidup pribadi.

Bagaimana mencegah stress ?
* Lihat/ukur kemampuan sendiri. Belajar
untuk menerima apa adanya dan mencintai diri sendiri.
* Temukan penyebab perasaan negatif dan belajar untuk menanggulanginya. Jangan memperberat masalah dan coba untuk sekali-kali mengalah terhadap orang lain meskipun
mungkin anda di pihak yang benar.
*Rencanakan perubahan-perubahanbesar dalamkehidupan anda dalam jangka lama dan beri waktu secukupnya bagi diri anda untuk menyesuaikan dari perubahan satu ke yang lainnya.
*Rencanakan waktu anda dengan baik. Buat daftar yang harus dikerjakan sesuai prioritas.
* Buat keputusan dengan hati-hati. Pertimbangkan dengan masak-masak segi baik atau
buruk sebelum memutuskan sesuatu.
* Biarkan orang lain ikut
memikirkan masalah anda. Ceritakan kepada pasangan hidup,
teman, supervisor atau
pemimpin agama. Mereka
mungkin bisa
membantu meletakkan masalah anda sesuai dengan proporsinya dan menawarkan cara-cara pemecahan yang berguna.
* Bangun suatu sistim pendorong yang baik dengan cara banyak berteman dan
mempunyai keluarga yang
bahagia. Mereka
akan selalu bersama anda dalam setiap
kesulitan. Jaga kesehatan, makan dengan baik, tidur cukup dan latihan olahraga
secara teratur.
*Rencanakan waktu untuk rekreasi.
* Tehnik relaksasi seperti
napas dalam, meditasi atau pijatan mungkin
bisa membantu menghilangkan stress.

Thursday, November 12, 2009

seputar kandungan 2

KOMPAS.com - Dalam
sebuah rubrik
konsultasi, seorang
bapak menanyakan
kondisi kehamilan
istrinya yang baru
berjalan 10 minggu
namun mengalami
vlek yang cukup
banyak. Kurang lebih
4 bulan sebelumnya
menurut pemeriksaan
dokter ada tumor
kecil di dinding
rahimnya.
Untuk
mempertahankan
kandungan, dokter
memberikan obat
penguat kandungan
(premaston) namun
sampai saat ini masih
keluar vlek meski
frekuensinya
berkurang.
Apakah vlek saat
hamil berkaitan
dengan adanya
tumor? Adakah efek
samping bagi janin
yang diberi penguat?
Bagaimana dengan
kemungkinan
keguguran akibat
vlek? Berikut
penjelasan yang
diberikan oleh dr.Judi
Januadi Endjun, Sp.OG,
dari RSPAD Gatot
Subroto, Jakarta.
Tumor dalam rahim
kemungkinan suatu
tumor jinak yang
berasal dari otot
rahim dan disebut
mioma uteri. Mioma
tersebut tidak bisa
hilang dengan
sendirinya, tetapi
dapat diangkat
melalui operasi.
Perdarahan pada
kehamilan muda bisa
disebabkan oleh
banyak faktor,
tersering adalah bila
terdapat infeksi,
kelainan rahim, atau
janin yang tidak
berkembang dengan
baik. Dari
pemeriksaan dokter,
dikatakan janin masih
bisa divertahankan,
artinya masih hidup
yang harus sangat
diperhatikan adalah
dampak dari
perdarahan tersebut
yaitu kehilangan zat
nutrisi penting dan
oksigen yang
menyebabkan
kelainan bawaan atau
kematian janin
pemberian sediaan
Progesteron sebagai
penguat kandungan
harus berdasarkan
hasil pemeriksaan
darah. Bila kadar
progesteronnya
rendah, baru
diberikan sediaannya,
dan sebaiknya yang
alamiah. Pemberian
penguat kandungan
tanpa alasan medis
yang benar dapat
menimbulkan dampak
yang
tidak baik bagi janin,
selain tak ada
manfaatnya, juga
harganya yang tidak
murah.
Perdarahan akan
menyebabkan
timbulnya kontraksi
rahim, yang bila
dibiarkan akan
menyebabkan
keluarnya jaringan
janin dan plasenta,
disebut sebagai
peristiwa keguguran
(abortus). Minta
tolong kepada dokter
untuk meng evaluasi
ada tidaknya
perdarahan di bawah
bakal jaringan
plasenta (perdarahan
subkhorionik),
pertumbuhan janin (1
mm per hari),
diameter yolk sac (4-7
mm), dan denyut
jantung janin > 85
denyut per menit
(dpm).
Bila perdarahan
subkhorionik > 50%,
pertumbuhan janin
terhambat atau
denyut jantung janin <
85 dpm, maka
kemungkinan
kegagalan kehamilan
sangat besar.
Bila kehamilan
berlanjut, lakukan
penapisan kelainan
bawaan janin dengan
USG pada kehamilan
10-14 minggu dan
18-22 minggu;
konsumsi makanan
yang halal dan sehat
(tidak mengandung
MSG dan junk food).
Sumber : Tabloid
Nakita

seputar keguguran

Investigasi keguguran
Gugurnya kandungan
sering kali terkesan
misterius, tidak
terjelaskan. Bahkan,
kerap dianggap hanya
kebetulan. Padahal
tidak selalu demikian.
Menurut dr Kanadi
Sumapraja, SpOG,
MSc dari Departemen
Obstetri dan
Ginekologi FKUI
RSCM, angka kejadian
keguguran spontan di
populasi berkisar
15-20 persen untuk
seluruh kehamilan.
Keguguran berulang
dapat menimbulkan
tekanan mental dan
trauma bagi pasangan
yang mendambakan
anak. Bagi
perempuan,
keguguran berulang
memicu timbulnya
rasa bersalah
lantaran menganggap
dirinya tidak mampu
mempertahankan
kehamilannya.
Kanadi mengatakan,
seorang perempuan
dapat disebut
mengalami keguguran
berulang jika
mengalami keguguran
sebanyak tiga kali
atau lebih secara
berturut-turut pada
usia kehamilan
kurang dari 24
minggu.
Namun, bagi Kanadi,
investigasi penyebab
keguguran sebetulnya
dapat saja dilakukan
setelah perempuan
itu mengalami satu
kali keguguran.
Apalagi kalau
pasangan itu
mendambakan segera
hadirnya keturunan.
”Kesannya baru
setelah tiga kali
mengalami baru
boleh diinvestigasi.
Padahal bisa sewaktu-
waktu timbul masalah
karena yang
dipersalahkan
kemudian
perempuan,” ujarnya.
Jika dilihat dari usia
kehamilan saat
kejadian keguguran,
keguguran dapat
digolongkan menjadi
keguguran
preembrionik (terjadi
di bawah usia
kehamilan 6 minggu),
keguguran embrionik
(usia kehamilan 6-8
minggu), keguguran
janin (usia kehamilan
8-12 minggu),
keguguran janin lanjut
(usia kehamilan 12-24
minggu).
Keguguran
preembrionik dan
embrionik banyak
dihubungkan dengan
kejadian kelainan
kromosom, kelainan
hormonal, gangguan
endometrium, dan
faktor imunologi.
Adapun keguguran
janin awal dan lanjut
banyak dikaitkan
dengan kelainan
sindrom antifosfolipid
dan trombofilia.
”Oleh karena itu,
sangat penting
mengetahui usia
kehamilan saat
keguguran terjadi,
hasil USG
sebelumnya, hingga
struktur janin,
misalnya, sudah
kelihatan detak
jantungnya atau
belum,” ujarnya.
Berbekal
pengetahuan awal
tersebut dapat
diketahui kategori
keguguran dan bisa
membantu arah
investigasi atau
pemeriksaan dokter.
Pengentalan darah
Terdapat berbagai
kemungkinan
penyebab keguguran.
Bahkan, terdapat
keguguran yang tidak
dapat dijelaskan.
Untuk mengetahui
secara pasti
diperlukan
pemeriksaan intensif.
Sejauh ini dr Karnadi
mengatakan, hasil
studi sejumlah peneliti
memperlihatkan
bahwa kelainan
genetik, anatomi pada
rahim, sindrom
antifosfolipid, serta
trombofilia memiliki
hubungan yang kuat
dengan keguguran.
Diperkirakan 7
persen-25 persen
penderita keguguran
berulang memiliki
asosiasi dengan
sindrom antifosfolipid.
Antibodi antifosfolipid
mempercepat
pembekuan darah dan
memicu bekuan
darah.
Keguguran karena
sindrom fosfolipid
diakibatkan oleh
adanya trombosis
atau pembentukan
bekuan darah yang
akan menyumbat
aliran darah plasenta.
Akibatnya, bayi tidak
mendapatkan nutrisi
dari darah, kurang
bertumbuh atau kecil,
dan kemudian
meninggal.
Pada kasus keguguran
berulang yang
demikian penggunaan
heparin, senyawa
untuk mencegah
terjadinya bekuan
darah, telah lama
dikenal.
Efek terapeutik
heparin pada kasus
keguguran berulang
yang diakibatkan
sindrom antifosfolipid
tidak hanya
disebabkan efek
antikoagulan atau
pengenceran darah.
Namun, juga karena
adanya efek lain.
Ternyata, heparin
juga memiliki efek
menghambat
pengikatan antibodi
fosfolipid, memicu
terjadinya efek
antiradang, dan
memfasilitasi proses
implantasi plasenta.
”Pengalaman
traumatik keguguran
tak perlu terulang,”
ujar Kanadi. Jika
diinvestigasi dan
diketahui
penyebabnya lalu
diberikan terapi yang
tepat, perempuan
yang kerap
mengalami keguguran
dapat melahirkan bayi
dengan selamat dan
sehat. (Indira
Permanasari)
Sumber : Kompas