oleh : Melly Latifah
(2008)
1. Definisi Remaja
Remaja didefinisikan
sebagai tahap
perkembangan transisi
yang membawa individu
dari masa kanak-kanak
ke masa dewasa, yang
ditandai dengan
perubahan fisik karena
pubertas serta
perubahan kognitif dan
sosial. Menurut Seifert
dan Hoffnung (1987),
periode ini umumnya
dimulai sekitar usia 12
tahun hingga akhir masa
pertumbuhan fisik, yaitu
sekitar usia 20 tahun.
2. Pandangan Teoritis
tentang Remaja
Ada dua pandangan
teoritis tentang remaja.
Menurut pandangan
teoritis pertama – yang
dicetuskan oleh psikolog
G. Stanley Hall – :
adolescence is a time of
“storm and stress “.
Artinya, remaja adalah
masa yang penuh dengan
“badai dan tekanan
jiwa”, yaitu masa di
mana terjadi perubahan
besar secara fisik,
intelektual dan
emosional pada
seseorang yang
menyebabkan kesedihan
dan kebimbangan
(konflik) pada yang
bersangkutan, serta
menimbulkan konflik
dengan lingkungannya
(Seifert & Hoffnung,
1987). Dalam hal ini,
Sigmund Freud dan Erik
Erikson meyakini bahwa
perkembangan di masa
remaja penuh dengan
konflik. Keyakinan ini
tercermin dari teori
mereka tentang
perkembangan manusia.
Menurut pandangan
teoritis kedua, masa
remaja bukanlah masa
yang penuh dengan
konflik seperti yang
digambarkan oleh
pandangan yang
pertama. Banyak remaja
yang mampu beradaptasi
dengan baik terhadap
perubahan yang terjadi
pada dirinya, serta
mampu beradaptasi
dengan baik terhadap
perubahan kebutuhan
dan harapan dari orang
tua dan masyarakatnya.
Bila dikaji, kedua
pandangan tersebut ada
benarnya, namun sangat
sedikit remaja yang
mengalami kondisi yang
benar-benar ekstrim
seperti kedua pandangan
tersebut (selalu penuh
konflik atau selalu dapat
beradaptasi dengan
baik). Kebanyakan
remaja mengalami kedua
situasi tersebut (penuh
konflik atau dapat
beradaptasi dengan
mulus) secara bergantian
(fluktuatif).
3. Pertumbuhan Fisik
Remaja
Seseorang akan
mengalami pertumbuhan
fisik (tinggi dan berat
badan) yang sangat
pesat pada usia remaja
yang dikenal dengan
istilah growth spurt.
Growth spurt merupakan
tahap pertama dari
serangkaian perubahan
yang membawa
seseorang kepada
kematangan fisik dan
seksual.
Pada usia 12 tahun,
tinggi badan rata-rata
remaja putra USA sekitar
150, sementara remaja
putri sekitar 154 cm.
Pada usia 18 tahun,
tinggi rata-rata remaja
putra USA sekitar 177
cm, sedangkan remaja
putri hanya 163 cm.
Kekepatan pertumbuhan
tertinggi pada remaja
putri terjadi sekitar usia
11 – 12 tahun, sementara
pada remaja putra, dua
tahun lebih lambat. Pada
masa pertumbuhan
maksimum ini, remaja
putri bertambah tinggi
badannya sekitar 3 inci,
sementara remaja putra
bertambah lebih dari 4
inci per tahunnya
(Marshall, dalam Seifert
& Hoffnung, 1987).
Seperti halnya tinggi
badan, pertumbuhan
berat badan juga
meningkat pada usia
remaja. Pertumbuhan
berat badan ini lebih
sulit diprediksi daripada
tinggi badan, dan lebih
mudah dipengaruhi oleh
diet, latihan fisik, dan
pola hidup.
Pada usia remaja, tubuh
remaja putri lebih
berlemak daripada
remaja putra. Selama
masa pubertas, lemak
tubuh remaja putra
menurun dari sekitar 18 –
19 % menjadi 11 % dari
bobot tubuh. Sementara
pada remaja putri, justru
meningkat dari sekitar
21 % menjadi sekitar 26 –
27 % (Sinclair, dalam
Seifert & Hoffnung, 1987).
Saat ini, remaja
mengalami perubahan
fisik (dalam tinggi dan
berat badan) lebih awal
dan cepat berakhir
daripada orang tuanya.
Kecenderungan ini
disebut trend secular.
Sebagai contoh, seratus
tahun yang lalu, remaja
USA dan Eropa Barat
mulai menstruasi sekitar
usia 15 – 17 tahun,
sekarang sekitar 12 – 14
tahun. Di tahun 1880,
laki-laki mencapai tinggi
badan sepenuhnya pada
usia 23 – 24 tahun dan
perempuan pada usia 19
– 20 tahun, sekarang
laki-laki mencapai tinggi
maksimum pada usia 18 –
20 dan perempuan pada
usia 13 – 14 tahun.
Trend secular terjadi
sebagai akibat dari
meningkatnya faktor
kesehatan dan gizi, serta
kondisi hidup yang lebih
baik. Sebagai contoh,
meningkatnya tingkat
kecukupan gizi dan
perawatan kesehatan,
serta menurunnya angka
kesakitan (morbiditas) di
usia bayi dan kanak-
kanak.
4. Pubertas
Pubertas adalah periode
pada masa remaja awal
yang dicirikan dengan
perkembangan
kematangan fisik dan
seksual sepenuhnya
(Seifert & Hoffnung,
1987). Pubertas ditandai
dengan terjadinya
perubahan pada ciri-ciri
seks primer dan
sekunder.
Ciri-ciri seks primer
memungkinkan
terjadinyanya
reproduksi. Pada wanita,
ciri-ciri ini meliputi
perubahan pada vagina,
uterus, tube fallopi, dan
ovari. Perubahan ini
ditandai dengan
munculnya menstruasi
pertama. Pada pria, ciri-
ciri ini meliputi
perubahan pada penis,
scrotum, testes, prostate
gland, dan seminal
vesicles. Perubahan ini
menyebabkan produksi
sperma yang cukup
sehingga mampu untuk
bereproduksi, dan
perubahan ini ditandai
dengan keluarnya
sperma untuk pertama
kali (biasanya melalui
wet dream).
Ciri-ciri seks sekunder
meliputi perubahan pada
buah dada, pertumbuhan
bulu-bulu pada bagian
tertentu tubuh, serta
makin dalamnya suara.
Perubahan ini erat
kaitannya dengan
perubahan hormonal.
Hormon adalah zat kimia
yang diproduksi oleh
kelenjar endokrin,
kemudian dilepaskan
melalui aliran darah
menuju berbagai organ
tubuh.
Kelenjar seks wanita
(ovaries) dan pria
(testes) mengandung
sedikit hormon. Hormon
ini berperan penting
dalam pematangan
seksual. Kelenjar
pituitary (yang berada di
dalam otak) merangsang
testes dan ovaries untuk
memproduksi hormon
yang dibutuhkan. Proses
ini diatur oleh
hypothalamus yang
berada di atas batang
otak.
5. Dampak Pertumbuhan
Fisik terhadap Kondisi
Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang
sangat pesat pada masa
remaja awal ternyata
berdampak pada kondisi
psikologis remaja, baik
putri maupun putra.
Canggung, malu, kecewa,
dll. adalah perasaan yang
umumnya muncul pada
saat itu.
Hampir semua remaja
memperhatikan
perubahan pada tubuh
serta penampilannya.
Perubahan fisik dan
perhatian remaja
berpengaruh pada citra
jasmani (body image) dan
kepercayaan dirinya
(self-esteem).
Ada tiga jenis bangun
tubuh yang
menggambarkan tentang
citra jasmani, yaitu
endomorfik, mesomorfik
dan ektomorfik.
Endomorfik banyak
lemak sedikit otot
(padded). Ektomorfik
sedikit lemak sedikit
otot (slender).
Mesomorfik sedikit
lemak banyak otot
(muscular).
6. Masalah Kesehatan
pada Remaja
Remaja merupakan usia
paling sehat dibanding
kanak-kanak dan dewasa
karena sedikitnya
penyakit yang dialami
kelompok usia ini. Akan
tetapi, remaja memiliki
resiko kesehatan paling
tinggi karena faktor
kecelakaan, alkohol,
narkoba, hamil diluar
nikah, kebiasaan makan
(diet) dan perilaku hidup
sehat yang buruk
Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung,
R.J. (1987). Child and
Adolescent Development.
Boston : Houghton Mifflin
Co.
Wednesday, November 18, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment